TARAKAN – Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri Satgaswil Kalimantan Utara, menggelar seminar bertema “Transformasi Ideologi Jemaah Islamiyah: Jalan Menuju Wasathiyah” di Auditorium Lantai 4 UBT, Selasa (28/4/2026). Kegiatan yang dimulai sejak pagi hari itu dihadiri sekitar 100 peserta dari unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, akademisi, tokoh agama, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Seminar tersebut menjadi wadah diskusi terbuka mengenai pentingnya pencegahan paham radikal dan ekstremisme melalui pendekatan pendidikan, pembinaan, dialog kebangsaan, serta penguatan nilai keagamaan yang moderat.
Sejumlah pejabat dan tokoh hadir dalam kegiatan itu, di antaranya pimpinan Universitas Borneo Tarakan, perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, Pemerintah Kota Tarakan, unsur Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), tokoh lintas organisasi keagamaan, serta aparat penegak hukum.
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, pembukaan oleh pembawa acara, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa, serta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan dan sesi diskusi panel bersama para narasumber.
Tekankan Sinergi Cegah Radikalisme
Dalam sambutannya, Kepala Satgaswil Kaltara Densus 88 AT Polri AKBP Vanggivantozy Praduga Satria menyampaikan apresiasi kepada Universitas Borneo Tarakan yang telah memberikan ruang akademik bagi terselenggaranya seminar tersebut.
Ia menegaskan penanggulangan radikalisme dan terorisme tidak dapat dilakukan secara parsial atau hanya mengandalkan pendekatan keamanan semata. Menurutnya, persoalan tersebut harus dihadapi secara komprehensif dengan melibatkan unsur pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, akademisi, dan masyarakat sipil.
Menurut dia, akar persoalan ekstremisme sering kali berkaitan dengan pemahaman ideologi yang keliru, sehingga penanganannya membutuhkan pendekatan dialog, edukasi, serta penguatan wawasan kebangsaan.
“Perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai benteng intelektual dalam membentuk generasi muda yang berpikir kritis, memiliki semangat nasionalisme, dan mampu menangkal pengaruh paham kekerasan,” ujarnya.
Ia juga menyebut perubahan cara pandang mantan pelaku atau simpatisan kelompok radikal menjadi bukti bahwa reintegrasi sosial dan transformasi pemikiran dapat dilakukan melalui pendekatan yang tepat.
Kampus Sebagai Ruang Dialog Ilmiah
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kemahasiswaan, dan Alumni UBT, Rukisah, yang mewakili pimpinan universitas, mengatakan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk menghadirkan ruang diskusi terhadap isu-isu strategis yang berkembang di masyarakat.
Ia menjelaskan, seminar tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari fungsi universitas dalam membangun tradisi ilmiah, memperluas wawasan mahasiswa, dan menghadirkan perspektif yang utuh terhadap persoalan sosial kebangsaan.
Menurutnya, transformasi ideologi bukan proses instan, tetapi membutuhkan waktu panjang, pembinaan berkelanjutan, komitmen, serta keterbukaan dalam menerima pandangan baru yang lebih moderat.
“Kampus harus menjadi tempat bertemunya gagasan, ruang berdiskusi secara sehat, agar masyarakat maupun mahasiswa tidak mudah salah memahami suatu persoalan,” katanya.
Ia berharap kegiatan semacam itu dapat terus dilaksanakan guna memperkuat literasi kebangsaan dan mendorong lahirnya generasi muda yang toleran.
Diskusi Panel Hadirkan Narasumber
Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran film refleksi terkait upaya pencegahan radikalisme dan transformasi pemahaman keagamaan.
Selanjutnya, peserta mengikuti diskusi panel yang menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Parawijayanto, Muhammad Najih Arromadloni, dan Wiji Joko Santoso, dengan moderator Dr. Moh. Ilham Agang.
Dalam sesi tersebut, para narasumber membahas pentingnya moderasi beragama, pengalaman perubahan cara pandang, serta perlunya memperkuat nilai persatuan bangsa dalam menghadapi tantangan ideologi transnasional dan intoleransi.
Peserta seminar juga diberikan kesempatan berdialog langsung melalui sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Sejumlah mahasiswa dan tamu undangan menyampaikan pertanyaan seputar strategi pencegahan radikalisme di lingkungan kampus dan masyarakat.
Perkuat Wawasan Kebangsaan
Kegiatan ditutup dengan penyerahan cinderamata kepada narasumber serta sesi foto bersama.
Secara keseluruhan, seminar berlangsung aman, tertib, dan lancar. Panitia berharap kegiatan tersebut mampu memperkuat wawasan kebangsaan, menumbuhkan budaya dialog, serta meningkatkan kesadaran bersama bahwa pencegahan ekstremisme membutuhkan kerja sama semua pihak.
Selain itu, seminar ini diharapkan menjadi momentum bagi kalangan akademisi dan masyarakat untuk terus mengedepankan nilai toleransi, persatuan, dan semangat kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)

