TARAKAN – Di tengah keterbatasan modal dan tekanan hutang, Hariyandi memutuskan meninggalkan usaha laundry. Ia beralih ke bisnis frozen food. Keputusan itu lahir bukan dari impian besar, melainkan kebutuhan mendesak.
“Usaha sebelumnya tidak mampu menutup beban hutang bank. Kami harus mencari bisnis lain,” kenangnya.
Besarnya beban finansial di tengah lesunya omzet bisnis laundry, nyaris membuat Hariyandi menyerah. Ia sempat meminta perpanjangan tenor cicilan hutang Bank untuk mempermudah pembayaran.
Desakan beban finansial itu ternyata membuka mata Hariyandi dalam melihat peluang bisnis baru. Pasokan ikan bandeng Kaltara yang melimpah dengan kualitas tinggi, membuat tekad Hariyandi Bulat untuk memulai bisnis Frozen Food dengan bahan baku bandeng.
Dari titik nol itulah D’Baloy Food Tarakan lahir. Sebuah UMKM yang kini tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh dan memberi dampak nyata bagi masyarakat serta perekonomian Kalimantan Utara.
Tahun 2018 menjadi awal perjalanan formal. Saat itu legalitasnya masih berupa Izin Usaha Mikro Kecil yang diterbitkan kecamatan. Modal utama hanyalah waktu, tenaga, dan kepercayaan. Bahan baku diambil dari tengkulak dengan sistem bayar belakangan.
Produksi awal masih terbatas, 50 hingga 100 kilogram per batch, dilakukan seminggu sekali. “Kami memulai dari minus. Yang kami miliki hanya waktu dan tenaga,” ujar Hariyandi.
Titik balik datang ketika D’Baloy Food terpilih menjadi binaan Bank Indonesia melalui program Wirausaha Unggulan. Dari ratusan UMKM yang dikurasi, mereka mengikuti bootcamp dan pendampingan selama dua tahun.
Pada pelatihan tersebut, mereka belajar memasuki pasar digital, memproduksi pangan yang baik, mengurus perizinan, hingga manajemen bisnis.
“Sekitar 80 persen ilmu manajerial dari bootcamp itu sangat berguna. Ketika kami aplikasikan, bisnis benar-benar terdongkrak,” katanya.
Pada Desember 2021, seiring tuntutan pasar ekspor, usaha D’Baloy Food Tarakan resmi berbadan hukum dengan payung PT D’baloy Corp Indonesia. Saat ini D’Baloy memiliki total 47 varian frozeen food.
Inovasi menjadi kunci daya saing. Awalnya D’Baloy fokus pada bandeng tanpa duri dalam bentuk frozen food. Kini mereka mengembangkan produk ready to eat seperti Bandeng Presto dan Bandung Asapku melalui proses sterilisasi. Produk ini tahan hingga satu tahun di suhu ruang, tanpa lagi bergantung pada freezer.
“Di wilayah Kalimantan, baru kami yang memiliki inovasi ini,” tegas Hariyandi.
Tim Quality Control internal mengawasi ketat dari produksi hingga distribusi. Digitalisasi menjadi ujung tombak. Mulai dari pemasaran, kontrol produksi, ketelusuran produk, hingga komunikasi dengan pembeli melalui email marketing.
Berkembangnya Artificial intelligence (AI) juga ikut mengubah pengembangan usaha oleh D’Baloy. Berbagai analisis bisnis mulai dari proyeksi perencanaan, melihat kecenderungan market berdasarkan alur pengiriman produk hingga menentukan target market produk, kini terasa lebih mudah.
“Digitalisasi memungkinkan dan murah. Kami menggunakannya jauh melampaui hal-hal standar,” ujarnya.
Strategi pemasaran digital awalnya dilakukan Hariyandi dengan sistem pre order. Platform yang digunakan adalah memanfaatkan fitur Blackberry Messenger (BBM).
Seiring masifnya penggunaan platform digital untuk menjangkau pasar, D’Baloy turut melakukan transformasi besar. Produk D’Baloy kini masuk di etalase marketplace dan mendongkrak penjualan ke wilayah luar Kaltara.
Persaingan dengan merek besar dari luar daerah dianggap hal wajar. Bagi Hariyandi, semakin banyak pesaing justru menandakan pasar yang semakin besar. Yang penting adalah terus berinovasi dan menjaga kualitas. Kolaborasi dengan Bank Indonesia, OPD Pemkot Tarakan serta stakeholder lain membuka akses ke bazar ekspo, pelatihan, dan business matching.
Dampak sosial ekonomi terasa jelas. Dari pabrik di Tarakan, D’Baloy memberdayakan warga sekitar. Saat ini terdapat 6 karyawan tetap dan lebih dari 40 pekerja freelance. Mayoritas perempuan dan ibu rumah tangga. Bahan baku utama memanfaatkan komoditas unggulan Kaltara, yakni bandeng.
Harga bandeng di Tarakan masih di kisaran Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per kilogram, jauh lebih murah dibandingkan di Pulau Jawa yang bisa mencapai Rp 88.000.
Saat ini, D’Bbaloy memenuhi kebutuhan hingga 60 Kg Frozeen Food ikan bandeng per satu hari. Jika diuraikan, kebutuhan tersebut setara pasokan hingga 300 ekor ikan bandeng setiap harinya. Dalam satu bulan, tak kurang dari 4 hingga 5 ton ikan bandeng masuk dalam dapur produksi D’Baloy untuk produk Frozen Food siap makan.
Efek domino ekonomi deras berputar di tengah tingginya kebutuhan produksi ikan bandeng D’Baloy. Mulai dari pemasok bahan baku ikan dan kemasan, keterlibatan pekerja hingga rantai pasok distribusi melalui jasa pengiriman, ikut merasakan dampak ekonomi.
Produk D’Baloy kini sudah menjangkau wilayah Kaltim, Jawa, Sulawesi, dan tengah diperluas ke pasar internasional. Hingga Agustus tahun ini saja, D’Baloy telah mengikuti hampir tujuh kali business matching dengan pembeli luar negeri.
Momen paling emosional terjadi di puncak pandemi 2022. Dua bulan sebelum pandemi awal muncul di Indonesia, Hariyandi mengajukan kredit KUR. Ketika pembatasan sosial diberlakukan, kekhawatiran sempat menguasai. Namun justru di masa sulit itu omzet melonjak hingga seribu kali lipat. Hutang dilunasi, rumah dan pabrik dibangun.
“Di saat yang lain terpuruk, kami justru jaya. Mungkin karena produk kami sedang dibutuhkan,” kenangnya.
Tantangan masih ada. Penjualan dua tahun terakhir tidak mudah digerek. Logistik di wilayah kepulauan terbatas dan biayanya tinggi. Namun Hariyandi memilih melangkah.
“Dompet harus tebal, jantung harus kuat. Ilmu apa pun yang didapat, jika tidak dieksekusi secara konsisten, tidak akan ada hasilnya. Itulah yang membedakan kami,” tegasnya.
Kisah D’Baloy Food adalah cerminan nyata dari “Cerita Benuanta: UMKM Tumbuh, Kaltara Maju”. Dari dapur produksi yang berawal dari keterbatasan, D’Baloy tidak hanya mengolah bandeng dan hasil laut lokal menjadi produk bernilai, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi kerakyatan, dan membawa nama Kaltara ke pasar yang lebih luas. Di tangan pelaku yang konsisten mengeksekusi, UMKM bukan sekadar usaha, melainkan fondasi kemajuan daerah. (*)
Reporter: Arif Rusman



