TARAKAN – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 H, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Tarakan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pedagang sapi. Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan hewan kurban yang beredar di masyarakat aman dari penyakit menular serta memenuhi standar kesehatan dan legalitas.
Plh Sekretaris Daerah (Sekda) Tarakan, Elang Buana, memimpin langsung kegiatan sidak yang melibatkan berbagai instansi. Hadir dalam sidak tersebut perwakilan Kejaksaan, Karantina, Pemerintah Kota Tarakan, hingga Polres Tarakan.
“Kegiatan kita ini sidak koordinasi dengan instansi terkait vertikal maupun Pemerintah Kota Tarakan. Di sini hadir dari Kejaksaan, kemudian dari Karantina, dari Pemerintah Kota tentu saja, dari Polres juga. Kita ini dalam rangka bagaimana perayaan Idul Adha kita ini dengan tenang,” ujar Elang Buana.
Menurut Elang, pihaknya memastikan dua hal utama: legalitas sapi dan status kesehatannya. Semua sapi yang masuk ke Tarakan telah melalui pemeriksaan laboratorium dan dinyatakan negatif dari berbagai penyakit menular.
“Kita pastikan bahwa memang hasil laboratorium itu negatif dari beberapa penyakit menular. Kita kerjasama dengan Karantina, dengan daerah sumber, juga di Tarakan kita kerjasama dengan Balai Penyakit Hewan di Banjarbaru. Secara berkala, tiga bulan sekali kita surveillance baik sapi, ayam, dan lain-lain,” jelasnya.
Alhamdulillah, hingga saat ini Tarakan dinyatakan bebas dari penyakit Avian Influenza (AI), dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi. Jika ditemukan sampel mencurigakan, pihak berwenang akan langsung melakukan tindakan tegas, termasuk pemusnahan jika diperlukan.
Pemerintah juga akan terus melakukan pengawasan ketat hingga hari H. Pemeriksaan antemortem (sebelum disembelih) dan postmortem (setelah disembelih) akan dilakukan, khususnya pada organ vital dan kelenjar getah bening (limfa).
“Di tempat-tempat pemotongan kurban, terutama di masjid-masjid, akan didatangi teman-teman dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian untuk melakukan pengawasan. Kita ingin memastikan yang dikonsumsi masyarakat adalah ternak yang benar-benar sehat,” tambah Elang Buana.k
Dari hasil pemantauan, stok hewan kurban di Tarakan cukup melimpah. Tercatat ada lebih dari 1.100 ekor sapi dan 440 ekor kambing yang siap dipasarkan. Tren masyarakat tahun ini cenderung bergeser, di mana permintaan sapi meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang lebih banyak memilih kambing.
Salah seorang pedagang sapi, Zainuddin, mengatakan sapi-sapinya didatangkan dari Gorontalo. Ia menyiapkan lebih dari 600 ekor untuk memenuhi kebutuhan Idul Adha tahun ini.
“Sapi di sini kami datangkan dari Gorontalo. Semua sudah melewati pemeriksaan karantina. Jadi sebelum dijual, dipastikan dulu lolos pemeriksaan kesehatan,” ungkap Zainuddin.
Harga sapi yang dijual bervariasi tergantung bobot dan jenis. Mulai dari Rp 25 juta hingga Rp 50 juta untuk sapi biasa, sementara jenis Limosin bisa mencapai Rp 120 juta. Selain Limosin, tersedia juga sapi Bali dan Simental.
Dengan pengawasan ketat yang dilakukan TPID dan instansi terkait, diharapkan masyarakat Tarakan dapat menjalankan ibadah kurban dengan tenang dan khusyuk, serta terhindar dari risiko kesehatan yang tidak diinginkan. (*)
Reporter : Arif Rusman

