TARAKAN – Intermediasi perbankan di Kalimantan Utara (Kaltara) menunjukkan dinamika yang beragam pada Maret 2026. Meski penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mengalami kontraksi, penyaluran kredit tetap ekspansif dan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala Kantor Perwakilan Wilayah (KPw) Bank Indonesia Kaltara, Hasiando G. Manik, menyatakan kredit atau pembiayaan pada Maret 2026 tumbuh kuat sebesar 75,88% year on year (yoy). Pertumbuhan ini dinilai tetap mendukung momentum ekspansi ekonomi Kaltara.
“Perkembangan kredit yang tinggi ini mencerminkan kepercayaan perbankan terhadap prospek ekonomi daerah, terutama di sektor-sektor produktif,” ujar Hasiando.
Berdasarkan jenis penggunaan, seluruh segmen kredit mencatatkan pertumbuhan positif. Kredit Investasi melesat tertinggi hingga 168,02% (yoy), diikuti Kredit Modal Kerja sebesar 35,39% (yoy) dan Kredit Konsumsi tumbuh 7,04% (yoy).
Secara sektoral, industri pengolahan mendominasi penyaluran kredit dengan pangsa 44,19% dan mencatatkan pertumbuhan sangat tinggi sebesar 209,73% (yoy). Posisi kedua ditempati sektor rumah tangga dengan pangsa 17,78% dan pertumbuhan 7,04% (yoy).
Di sisi penghimpunan dana, DPK Kaltara terkontraksi 2,13% (yoy) pada Maret 2026. Penurunan ini dipengaruhi kontraksi Giro yang cukup dalam sebesar 24,55% (yoy) dan Deposito yang turun 1,56% (yoy). Namun, komponen Tabungan masih tumbuh positif 8,57% (yoy), menjadi penyeimbang utama.
Meski kredit tumbuh tinggi, kualitas kredit perbankan di Kaltara tetap terjaga baik. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat rendah hanya 0,72% pada Maret 2026, jauh di bawah ambang batas (threshold) 5%. Hal ini menunjukkan bahwa perbankan berhasil menyalurkan dana dengan prudensial.
Sementara itu, penyaluran kredit kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menghadapi tantangan. Kredit UMKM terkontraksi 3,03% (yoy). Total outstanding kredit di Kaltara mencapai Rp 5,36 triliun dengan pangsa kredit UMKM turun dari 13,07% menjadi 11,16%.
Penyaluran kredit terbesar kepada UMKM masih mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran, dengan nominal mencapai Rp 2,317 triliun.
Hasiando G. Manik menekankan pentingnya upaya mendorong inklusi keuangan dan pembiayaan UMKM ke depan agar pertumbuhan ekonomi Kaltara semakin merata dan berkelanjutan.
Dengan pertumbuhan kredit yang kuat dan risiko yang terkendali, intermediasi perbankan diharapkan terus menjadi mesin penggerak ekonomi Kaltara di tengah berbagai tantangan global dan domestik. Bank Indonesia akan terus memantau dinamika likuiditas dan kualitas kredit agar stabilitas sistem keuangan daerah tetap terjaga. (*)
Reporter : Arif Rusman

