TARAKAN – Bedasarkan data Badan Pusat Statisktik (BPS), gabungan tiga kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Kalimantan Utara mencatat inflasi month-to-month (mtm) sebesar 0,57% pada Maret 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi Februari yang tercatat 0,47%. Meski demikian, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Provinsi Kaltara masih terkendali di level 3,12%, lebih rendah dari inflasi nasional.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando G. Manik, menyampaikan kenaikan inflasi bulanan didorong oleh dua kelompok utama, yaitu Makanan, Minuman, Tembakau serta Transportasi.
“Komoditas yang memberikan andil terbesar adalah Cabai Rawit dengan andil 0,24%, diikuti Daging Ayam Ras 0,13%, Angkutan Udara 0,10%, Ikan Bandeng 0,05%, dan Telur Ayam Ras 0,05%,” jelas Hasiando dalam keterangan resminya.
Lanjut Hasiando, lonjakan harga Cabai Rawit dipicu oleh meningkatnya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri serta terbatasnya pasokan di beberapa sentra produksi. Sementara kenaikan Daging Ayam Ras dipengaruhi penyesuaian harga di tingkat pedagang seiring ekspektasi permintaan Lebaran. Kenaikan tarif Angkutan Udara terjadi akibat tingginya mobilitas masyarakat pada puncak arus mudik.
Di sisi lain, tekanan inflasi berhasil diredam oleh deflasi pada Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, terutama penurunan harga Emas Perhiasan yang memberikan andil minus 0,06%. Penurunan ini sejalan dengan koreksi harga emas global di tengah dinamika ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.
Deflasi juga terjadi pada beberapa komoditas hortikultura seperti Sawi Hijau (-0,03%), Kangkung (-0,03%), dan Bayam (-0,01%) akibat pasokan lokal yang melimpah selama masa panen serta cuaca yang kondusif. Angkutan Laut juga mengalami penurunan harga (-0,03%) seiring bergesernya preferensi masyarakat ke transportasi udara.
Hasiando menerangkan, meski inflasi Kaltara saat ini terjaga, terdapat beberapa risiko yang perlu diwaspadai. Dari sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi menimbulkan shock supply jika terjadi pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Sementara dari domestik, gangguan pasokan komoditas strategis seperti cabai dan bawang merah, serta potensi kenaikan tarif Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi perhatian utama.
Untuk menjaga inflasi tetap dalam kisaran target sepanjang 2026, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kaltara terus memperkuat sinergi melalui strategi 4K. Yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Beberapa langkah konkret yang telah dilakukan antara lain pelaksanaan 220 kegiatan pasar murah di berbagai wilayah, penerapan Good Agriculture Practices (GAP) melalui irigasi tetes pada komoditas cabai merah, serta penyediaan sarana pendukung peningkatan produktivitas petani. TPID juga aktif melakukan High Level Meeting, sidak pasar, dan mendorong diversifikasi konsumsi produk olahan.
Sepanjang tahun ini, KPw BI Kaltara juga mendorong program Fasilitasi Distribusi Pangan melalui Mini Distribution Center (MDC) atau Kios Tarakan Hibot. Program ini diharapkan dapat menjaga keterjangkauan harga dan ketersediaan pangan strategis di tengah fluktuasi kebutuhan masyarakat.
“Dengan sinergi yang solid antara BI, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan, kami optimis inflasi Kaltara dapat terus terkendali mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkas Hasiando. (*)
Reporter : Arif Rusman

