TARAKAN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kalimantan Utara mencatat arus keluar (net outflow) uang rupiah sebesar Rp 278,11 miliar sepanjang Maret 2026. Meski demikian, arus masuk (inflow) uang tunai mengalami pertumbuhan sangat tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala KPw BI Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando G. Manik, menyampaikan outflow pada Maret 2026 tercatat sebesar Rp 460,872 miliar, atau terkontraksi 4,39 persen (year on year/yoy). Sementara itu, inflow mencapai Rp 182,76 miliar, tumbuh signifikan sebesar 231,93 persen (yoy).
“Sepanjang Maret 2026, KPw BI Provinsi Kaltara mengalami net outflow sebesar Rp 278,11 miliar,” ujar Hasiando dalam keterangan resminya.
Menurut Hasiando, Bank Indonesia secara rutin melakukan kegiatan dropping dan penarikan uang tunai, termasuk uang tidak layak edar (UTLE), ke tiga Kas Titipan Bank Indonesia di Tanjung Selor, Malinau, dan Nunukan. Langkah ini dilakukan sesuai kebutuhan untuk menjaga ketersediaan dan kualitas uang rupiah yang beredar di masyarakat tetap dalam kondisi layak edar.
Pertumbuhan inflow yang sangat tinggi menunjukkan peningkatan kebutuhan masyarakat akan uang tunai baru, sementara kontraksi outflow mengindikasikan perlambatan arus keluar uang dari perbankan atau masyarakat dibandingkan tahun lalu. Net outflow yang terjadi mencerminkan lebih banyak uang yang keluar dari sistem KPw BI Kaltara dibandingkan yang masuk selama periode tersebut.
Data ini menjadi salah satu indikator dinamika likuiditas dan peredaran uang di wilayah Kalimantan Utara. BI terus memantau perkembangan ini untuk memastikan kelancaran sistem pembayaran dan pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap uang kartal yang berkualitas.
Hingga saat ini, KPw BI Kaltara tetap berkomitmen menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan di wilayah Kaltara melalui pengelolaan uang rupiah yang prudent dan responsif terhadap kebutuhan ekonomi daerah. (*)
Reporter : Arif Rusman

