TARAKAN – Di tengah keterbatasan ruang dan situasi di balik tembok penjara, semangat memperkuat iman dan taqwa warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan tetap menyala. Lapas setempat terus bersinergi intensif dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tarakan melalui program pembinaan kerohanian berupa tausyiah islamiyah.
Program yang mengusung konsep Sinergi Pembinaan Kerohanian Islam Inklusif ini dirancang untuk menjamin hak beribadah seluruh warga binaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan ini berlangsung secara menyeluruh tanpa memandang perbedaan suku, ras, maupun golongan.
Pembinaan kerohanian Islam digelar secara rutin setiap pekan dengan dukungan penuh para penyuluh kerohanian agama Islam dari Kemenag Tarakan.
Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan, Jupri, menegaskan penyelenggaraan program ini mengikuti aturan dan ketentuan yang berlaku. Selain itu, pihaknya juga memberdayakan peran stakeholder Pemerintah Daerah serta yayasan keagamaan lainnya.
“Kegiatan pembinaan kerohanian merupakan program mendasar bagi setiap warga binaan. Tujuan utamanya ialah untuk membentuk perubahan pola perilaku, peningkatan kualitas Iman dan Taqwa (Imtaq), serta sebagai tindakan korektif yang dirasa efektif menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat. Pembinaan kerohanian di Lapas Tarakan turut didukung oleh jajaran mitra stakeholder Kemenag Kota Tarakan melalui mekanisme Perjanjian Kerja Sama (PKS). Kami berkomitmen penuh untuk mewujudkan pembinaan kerohanian yang inklusif dan tentunya bermanfaat untuk masyarakat,” ujar Jupri.
Landasan hukum program ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022. Dalam regulasi tersebut, pembinaan kerohanian termasuk dalam pembinaan kepribadian narapidana yang bertujuan meningkatkan kesadaran beragama, mengubah perilaku, serta menumbuhkan kualitas spiritual kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Melalui sinergi berkelanjutan ini, Lapas Kelas IIA Tarakan berharap para warga binaan tidak hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga memperoleh bekal spiritual yang kuat untuk kembali berkontribusi positif di masyarakat kelak. (*)



