TARAKAN – Penanganan stunting di Kecamatan Tarakan Timur terus digenjot pemerintah. Camat Tarakan Timur, Boby Deen Marten, menjelaskan berbagai intervensi telah dilakukan, terutama di wilayah Pantai Amal yang menjadi lokus stunting dengan angka lebih tinggi dibandingkan rata-rata kota.
Menurut Boby, angka stunting di Pantai Amal mencapai 9,7 persen, sementara rata-rata Kota Tarakan berada di 4,4 persen. Kondisi ini mendorong pihak kecamatan untuk melakukan intervensi lebih intensif.
“Penanganan stunting di Tarakan Timur itu ada intervensi pemerintah dalam hal ini kecamatan, salah satunya adalah Pemberian Makan Tambahan (PMT). Kemudian juga kita melakukan lintas sektor, jadi koordinasi lintas sektor, baik dari kecamatan, pihak kelurahan, puskesmas, mitra lainnya,” ujar Boby Deen Marten.
Selain PMT, program sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terus digalakkan. Pendampingan posyandu balita dilakukan secara menyeluruh di semua kelurahan dan sudah terjadwal rutin.
“Intervensi lainnya adalah tentunya sosialisasi, edukasi, kemudian pendampingan posyandu, khususnya posyandu balita. Itu menyeluruh semua kelurahan dan teragendakan,” tambahnya.
Pantai Amal memiliki karakteristik khusus yang menjadi tantangan tersendiri. Banyak keluarga di sana merupakan pekerja musiman, terutama petani rumput laut yang datang dari luar Tarakan. Mereka datang pada musim tertentu bersama anak-anaknya, sehingga kasus stunting pun muncul secara fluktuatif.
“Uniknya itu kadang mereka ini bukan warga Tarakan, dari luar domisili Tarakan. Sehingga apa yang harus dilakukan, ya kita tetap karena dia berada di kota Tarakan, khususnya pekerja-pekerja ini anak-anaknya petani rumput laut,” jelas Boby.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan banyak orang tua di kelompok ini enggan mendatangi posyandu atau puskesmas. Oleh karena itu, pendekatan langsung ke lapangan menjadi solusi.
Salah satu langkah terbaru adalah bekerja sama dengan mahasiswa untuk turun langsung ke lapangan. Mereka membantu pendataan serta memberikan edukasi dan bantuan makanan secara langsung jika diperlukan.
“Yang terakhir ini kita coba bekerja sama dengan mahasiswa untuk bisa turun langsung ke lapangan. Untuk melakukan pendataan, kemudian ke puskesmas gitu kalau bisa langsung ada tindakan saat itu. Misalnya pembagian untuk makanan, kira-kira seperti itu, selain edukasi,” paparnya.
Pemeriksaan rutin terhadap balita yang terindikasi stunting tetap dilakukan secara berkala dengan kriteria medis standar, terutama berdasarkan tinggi badan. Data penerima program PMT berasal dari tingkat RT, diteruskan ke kelurahan, kemudian diverifikasi kembali dengan data puskesmas untuk memastikan akurasi dan ketepatan sasaran.
Boby optimistis berbagai intervensi yang dilakukan akan membuahkan hasil positif. Koordinasi antar-kelurahan dinilai berjalan baik, dengan laporan data yang lengkap dari lapangan.
Dengan pendekatan lintas sektor, edukasi berkelanjutan, dan penanganan langsung di lapangan, Kecamatan Tarakan Timur berharap angka stunting di wilayahnya, khususnya Pantai Amal, dapat terus ditekan mendekati bahkan di bawah rata-rata kota. (*)
Reporter: Arif Rusman


