TARAKAN – Kepala Kecamatan Tarakan Timur, Boby Deen Marten, memperkenalkan pendekatan baru dalam tata kelola pemerintahan kecamatan yang lebih manusiawi sekaligus solutif. Melalui program Budaya Kerja bulanan dan inisiatif unggulan TERAS, ia ingin membangun tim yang solid sekaligus mempercepat penyelesaian masalah masyarakat di tingkat kelurahan.
Boby menjelaskan bahwa setiap awal bulan, seluruh jajaran kecamatan dan kelurahan melaksanakan Budaya Kerja selama lima hari kerja pertama. Program ini dirancang untuk menciptakan suasana kantor yang lebih cair, produktif, dan penuh kolaborasi.
“Pertama adalah budaya kerja. Di pekan pertama setiap bulan, kita lakukan selama lima hari,” ujar Boby.
Senin Sapa, yaitu Silaturahmi penuh cinta. Setiap tim menggelar agenda singkat 15–30 menit untuk membangun keakraban dan suasana cair di kantor.
Kemdian Selasa Ceria, yakni Ceritakan Info Anda. Pegawai bebas berbagi informasi penting yang mereka dapatkan.
Rabu Baca, yaitu Belajar dan membaca materi terkait tugas pokok dan regulasi selama 15–30 menit.
Kamis Ngopi, Ngobrol penuh ide. Ruang bagi seluruh pegawai untuk menyampaikan gagasan yang bisa meningkatkan kinerja kecamatan dan kelurahan.
Jumat Berkah, bersama kawal hibur. Kegiatan penutup yang penuh keberkahan sekaligus menciptakan suasana menyenangkan.
Boby menekankan seluruh kegiatan Budaya Kerja tersebut harus selaras dengan visi dan 20 program unggulan Pemerintah Kota Tarakan.
Selain Budaya Kerja, program andalan lainnya adalah Temu, Evaluasi, Rembuk, Aksi, Solusi (TERAS). Program ini dilaksanakan sekali sebulan dengan cara berkeliling ke seluruh kelurahan di Tarakan Timur.
“Di setiap kelurahan kita identifikasi masalah, buat ranking, dan tetapkan hanya tiga prioritas utama yang akan kita bahas di TERAS Timur,” jelas Boby.
Yang membedakan TERAS adalah pendekatannya yang solusi-oriented. Setiap rapat tidak sekadar mendengar keluhan, melainkan langsung menghadirkan pemangku kepentingan terkait untuk mencari penyelesaian.
Contoh nyata terjadi di Kelurahan Pantai Amal bulan lalu. Fokus utama adalah masalah kependudukan dan PDAM. Narasumber dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil serta pihak PDAM dihadirkan langsung. Hasilnya, beberapa keputusan langsung diambil di lokasi.
“Alhamdulillah langsung diputuskan dan segera ditindaklanjuti. Saya dan Lurah Pantai Amal sudah ke PDAM untuk memfasilitasi data agar warga bisa segera mendapat instalasi air bersih,” tambahnya.
Bulan ini, kegiatan TERAS digelar di Kelurahan Gunung Lingkas. Boby menegaskan bahwa peserta yang hadir bukan untuk menambah daftar masalah baru, melainkan sebagai pemberi solusi.
“Dengan TERAS, kita ingin masalah tidak hanya teridentifikasi, tapi benar-benar tuntas diselesaikan,” tegasnya.
Pendekatan Boby Deen Marten ini mendapat perhatian karena menggabungkan aspek internal (pembangunan budaya kerja) dengan eksternal (pelayanan langsung kepada masyarakat). Model ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi kecamatan lain di Kota Tarakan dalam mewujudkan pemerintahan yang lebih responsif dan berorientasi solusi.
Dengan Budaya Kerja dan TERAS, Kecamatan Tarakan Timur sedang berupaya membuktikan jika birokrasi tidak harus kaku, melainkan bisa tetap humanis sekaligus efektif menyelesaikan persoalan warga. (*)
Reporter: Arif Rusman


