Info IndoInfo IndoInfo Indo
  • Beranda
  • Nasional
  • Kaltara
    • Kota Tarakan
    • Kabupaten Bulungan
    • Kabupaten Nunukan
    • Kabupaten Malinau
    • Kabupaten Tana Tidung
  • Advertorial
  • Hukrim
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
Bacaan : Menguliti Narasi Pseudo Moral Superiority Yusuf Amir, Mengapa Pembela Hak Koruptor Mendadak Nyaring di Ruang Digital?
Bagikan
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Info IndoInfo Indo
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
Search
  • Beranda
  • Nasional
  • Kaltara
    • Kota Tarakan
    • Kabupaten Bulungan
    • Kabupaten Nunukan
    • Kabupaten Malinau
    • Kabupaten Tana Tidung
  • Advertorial
  • Hukrim
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
Ikuti Kami
© 2025 Facesia.com
Info Indo > Hukum > Menguliti Narasi Pseudo Moral Superiority Yusuf Amir, Mengapa Pembela Hak Koruptor Mendadak Nyaring di Ruang Digital?

Menguliti Narasi Pseudo Moral Superiority Yusuf Amir, Mengapa Pembela Hak Koruptor Mendadak Nyaring di Ruang Digital?

Arif Rusman
Arif Rusman
Published: 1 Juni 2026
Bagikan
5 Minimal Baca
Bagikan

PALEMBANG – Pernyataan advokat senior Ari Yusuf Amir mengenai publikasi nominal triliunan rupiah hasil penyelamatan keuangan negara oleh Satuan Tugas Penyelamatan Keuangan Negara (Satgas PKH) menuai respons kritis dari kalangan akademisi. Narasi yang mempersoalkan aspek seremonial tersebut dinilai berpotensi mengikis kepercayaan publik (distrust) terhadap komitmen penegakan hukum di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Akademisi Hukum Kebijakan Publik sekaligus Ahli Hukum Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MKRI), Kurnia Saleh, menyatakan bahwa reduksi penegakan hukum sekadar pada kalkulasi angka dan nominal dapat mengaburkan hakikat keadilan yang substantif.

- Advertisement -
Ad imageAd image

“Hukum tidak boleh direduksi menjadi sekadar kalkulator yang menghitung berapa triliun uang diselamatkan. Negara hukum berdiri di atas moralitas konstitusi, efek jera, dan keadilan sosial. Kalau semua hanya diukur dari angka, maka hukum kehilangan ruh etiknya,” ujar Kurnia dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis (28/5/2026).

Menurut Kurnia, langkah progresif yang diambil pemerintah bersama aparat penegak hukum (APH) saat ini mencerminkan pergeseran paradigma penegakan hukum ke arah yang lebih tegas dan berdaulat. Ia menekankan bahwa kejahatan kerah putih (white-collar crime) tidak lagi dapat diselesaikan secara kompromistis.

- Advertisement -
Ad imageAd image

“Pemerintahan Presiden Prabowo sedang membangun pesan kuat bahwa korupsi, mafia anggaran, dan penyalahgunaan bantuan sosial bukan lagi kejahatan yang bisa dinegosiasikan hanya dengan pengembalian uang,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kurnia menyoroti fenomena pola komunikasi publik sebagian praktisi hukum yang cenderung memindahkan ruang pembuktian dari ranah yudisial ke ranah opini publik. Pola framing ini acap kali muncul dalam perkara-perkara besar berskala nasional, termasuk isu hukum yang menyeret mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim. Isu-isu tersebut kerap dibingkai sebagai bentuk kriminalisasi atau politisasi hukum di ruang digital.

“Dalam negara hukum modern, ruang pembuktian ada di pengadilan, bukan di panggung opini digital. State of law diuji di ruang sidang, bukan di timeline media sosial,” tegas Kurnia.

Secara filosofis, Kurnia mengidentifikasi gejala ini sebagai pseudo moral superiority. Yaitu sebuah narasi yang dikemas seolah-olah objektif dan berpihak pada hak asasi, namun secara perlahan mendegradasi legitimasi institusi negara.
“Satirnya sederhana. Ketika negara mulai tegas kepada koruptor, tiba-tiba ada yang paling khawatir terhadap hak-hak pelaku. Tetapi bertahun-tahun diam terhadap hak rakyat kecil yang dirampas akibat korupsi,” pungkasnya.

Dalam bedah yuridis yang lebih mendalam, Kurnia Saleh memaparkan analisisnya mengenai landasan hukum serta konsekuensi sosiologis dari pola framing hukum di ruang publik saat ini. Secara normatif, publikasi nominal penyelamatan keuangan negara oleh Satgas PKH itu sejalan dengan semangat Pasal 4 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Di sana ditegaskan secara eksplisit bahwa pengembalian kerugian keuangan negara tidak menghapuskan dipidananya pelaku. Jadi, langkah memamerkan angka tersebut bukan bentuk transaksi atau negosiasi perkara, melainkan pemenuhan Asas Akuntabilitas dan Keterbukaan Informasi Publik. Masyarakat berhak tahu output riil penegakan hukum karena korupsi adalah financial crime yang dampak sosialnya sangat luas,” terang Kurnia.

Kurnia juga menambahkan pandangannya terkait bahaya pergeseran pembuktian hukum dari koridor yudisial ke panggung digital, yang menurutnya bertentangan dengan doktrin Sub-Judice Rule dan asas praduga tak bersalah dalam UU Kekuasaan Kehakiman.

“Ketika advokat atau praktisi hukum memindahkan ruang pembelaan dari ruang sidang ke media sosial, di situlah terjadi risiko trial by the press. Berdasarkan Pasal 8 ayat (1) UU Nomor 48 Tahun 2009, kebenaran materiil diuji di depan hakim lewat alat bukti sah Pasal 184 KUHAP, bukan melalui penggiringan opini publik. Framing seolah-olah pemerintah selalu mengkriminalisasi atau mempolitisasi kasus sebelum sidang selesai berisiko melahirkan tindakan yang merendahkan martabat peradilan atau contempt of court”, lanjutnya.

Pun Kurnia menggunakan pendekatan sosiologi hukum Lawrence M. Friedman untuk memperingatkan dampak destruktif dari narasi ketidakpercayaan yang terus diproduksi secara masif.

“Sistem hukum hanya bisa tegak jika tiga komponen utamanya berjalan seiring, yaitu substansi hukum, struktur aparat, dan budaya hukum masyarakat. Jika opini distrust ini terus dibangun secara apriori, komponen budaya hukum kita akan runtuh. Ketika masyarakat digiring untuk selalu curiga dan menganggap penegakan hukum hanya komoditas politik, maka hukum akan kehilangan legitimasi dan daya paksa moralnya. Itu jauh lebih berbahaya bagi keberlangsungan negara hukum kita,” tutup Kurnia. (*)

Reporter : Arif Rusman

Anda Mungkin Juga Menyukai

Pengamat: Stop Hoaks dan Persekusi Digital Anak Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Bebas Bersyarat dan Kembali ke Tengah Masyarakat, Warga Binaan Lapas Tarakan Kompak Sujud Syukur
Lapas Tarakan Bersama Personil TNI/Polri dan BNNP Kaltara Laksanakan Razia Gabungan, Perkuat Deteksi Dini
Bantah Sebagai Pemilik 74 Kg Emas, Febrie: Saya Tak Punya IUP Tambang, Konsesi Sawit dan Tak Pernah Minta Kuota Impor
Jalani Program Integrasi Pembebasan Bersyarat, Warga Binaan Siap Kembali Ke Tengah Masyarakat
Bagikan Artikel ini
Facebook Copy Link Print

Berita Terbaru

Program Pusling Lapas Tarakan Dukung Literasi Warga Binaan
Literasi
25 September 2026
HLM BI Kaltara Dorong Money Changer Berizin di Kalimantan Utara
Ekonomi
25 September 2026
Tarakan Juara TPID Award 2026, Inflasi Terkendali lewat Inovasi Lokal
Ekonomi
25 September 2026
Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Perkuat Pasokan Pertalite di Pulau Sebatik
Ekonomi Energi
21 September 2026

Berita Terhangat

Hukum

Cegah Gangguan Keamanan dan Ketertiban, Lapas Tarakan Gandeng TNI/POLRI Laksanakan Razia Gabungan

18 September 2026
Hukum

Kriminalisasi Berlebihan atas Sengketa Transfer Pricing Berisiko Pukul Balik Kepercayaan Investor di Indonesia

14 September 2026
Hukum

BAP Tan Kian Dinilai Lemah, Pengamat: Karena Tidak Melihat dan Mengalami Langsung Pemberian Rp 40 M ke Pejabat Kejagung

11 September 2026
Hukum

BAP Ungkap Kesaksian Tan Kian Soal Aliran Dana Rp 40 Miliar Hanya Bersifat Dugaan

9 September 2026
Sebelumnya Berikutnya
Info IndoInfo Indo
© 2024 - Infoindo.co.id | All Rights Reserved.
  • Instagram
  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Kehilangan Password ?