JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) mewajibkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki media sosial (medsos) Facebook, Instagram, dan TikTok, agar masyarakat dapat turut mengawasi bersama Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Setiap hari siapa yang mengevaluasi? Masyarakat langsung, karena kami setiap hari sudah perintahkan seluruh kepala SPPG membuat media sosial yang sudah kami tentukan, yaitu Facebook, Instagram, dan TikTok,” kata Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya seperti dilansir dari Antara, Jumat, 6 Maret 2026.
Ia mengemukakan saat ini sudah ada 45.000 media sosial milik SPPG yang menjadi sarana evaluasi bagi masyarakat, baik itu dari segi menu, kualitas gizi, hingga harga.
“Jadi, setiap hari mereka wajib menayangkan menunya apa, berapa kualitas gizi, dan berapa harganya. Setiap minggu, kami juga melakukan webinar, kalau Zoom Meeting kan interaktif ya, itulah evaluasi kecil-kecil. Kami juga melaksanakan evaluasi per kabupaten, ini lho menu-menu yang minimalis, jadi tidak ada lagi semangka kipas angin (dipotong terlalu tipis),” ujar dia.
Menurutnya, melalui evaluasi-evaluasi itu diharapkan ada efek malu dari SPPG yang membuat menu di bawah kualitas MBG yang disajikan di SPPG lain.
“Kalau diwajibkan mengunggah ke media sosial, setidaknya ada efek malu. Pada setiap kemasan juga wajib ada keterangan gizi dan harganya, ini bentuk transparansi dan akuntabilitas publik,” tuturnya.
BGN juga akan menindak tegas oknum SPPG yang modus pura-pura tertipu saat membangun dapur untuk melayani Program MBG.
Baca juga : https://infoindo.co.id/polisi-blak-blakan-alasan-richard-lee-ditahan/
“Ada modus pura-pura membangun dulu, kemudian pura-pura ditipu gitu ya supaya yakin diverifikasi, tetapi ada juga yang benar-benar kena tipu, seperti kemarin ada orang yang datang ke saya, ‘Pak, saya ditipu, dapur saya sudah jadi, tetapi saya ditipu, enggak masuk ke dalam sistem.’ Kemudian, saya tanya, penipunya siapa? Kalau ada, laporin dong, saya pengin tahu untuk membedakan modus dan yang benar,” paparnya.
Sony menjelaskan apabila calon mitra ketika ditanya siapa penipunya tetapi enggan menjawab, maka dapat dipastikan itu hanya modus demi mendapatkan verifikasi dai BGN.
“Kalau dia enggak mau jawab, atau bilang, ‘Ya, adalah, Pak,’ begitu, maka sudah tentu modus, tetapi kalau yang benar-benar ditipu, sekarang sudah diterima laporannya sama polisi, jelas siapa penipunya, sebentar lagi mungkin tayang siapa penipunya, karena minimal satu orang itu Rp100 juta kerugiannya,” ujar dia.
Sony menegaskan saat ini BGN sudah menutup pendaftaran SPPG, karena sudah memenuhi kuota untuk melayani Program MBG. Hingga hari ini sudah ada lebih dari 24.000 SPPG yang berdiri di seluruh Indonesia. (vv/int)

