Info IndoInfo IndoInfo Indo
  • Beranda
  • Nasional
  • Kaltara
    • Kota Tarakan
    • Kabupaten Bulungan
    • Kabupaten Nunukan
    • Kabupaten Malinau
    • Kabupaten Tana Tidung
  • Advertorial
  • Hukrim
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
Bacaan : MAPALASTA Ambil Peran Strategis dalam Riset Nasional Restorasi Gunung Bulu Bawakaraeng Berbasis Ekoteologi
Bagikan
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Info IndoInfo Indo
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
Search
  • Beranda
  • Nasional
  • Kaltara
    • Kota Tarakan
    • Kabupaten Bulungan
    • Kabupaten Nunukan
    • Kabupaten Malinau
    • Kabupaten Tana Tidung
  • Advertorial
  • Hukrim
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
Ikuti Kami
© 2025 Facesia.com
Info Indo > Berita > MAPALASTA Ambil Peran Strategis dalam Riset Nasional Restorasi Gunung Bulu Bawakaraeng Berbasis Ekoteologi

MAPALASTA Ambil Peran Strategis dalam Riset Nasional Restorasi Gunung Bulu Bawakaraeng Berbasis Ekoteologi

Siddiq Rustan
Siddiq Rustan
Published: 5 Juli 2026
Bagikan
6 Minimal Baca
Bagikan

GOWA – Mahasiswa Pencinta Alam Sultan Alauddin Makassar (MAPALASTA) berpartisipasi dalam Focus Group Discussion (FGD) Validasi Konsep Post-Complex Humanitarian Emergency: Ecotheological Humanitarian Restoration Framework (POSTCHE-EHRF) yang digelar pada 24–25 Juni 2026 di Baruga Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Keterlibatan MAPALASTA menjadi bagian dari kolaborasi riset nasional yang bertujuan menyusun kerangka pemulihan kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng pascakeadaan darurat melalui pendekatan yang mengintegrasikan ekoteologi Islam, pengetahuan lokal, kajian geomorfologi, dan tata kelola pelestarian lingkungan.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Gunung Bulu Bawakaraeng dipilih sebagai lokasi penelitian karena dinilai memiliki kerentanan geomorfologis sekaligus menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang berkembang di tengah masyarakat.

FGD diikuti 77 peserta dan 37 peninjau dari berbagai unsur, di antaranya pemangku adat kawasan Bulu Bawakaraeng, tokoh agama, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan, PUSDAL Lingkungan Hidup SUMA, organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (MAPALA PTKIN), komunitas pecinta alam, akademisi, serta sejumlah narasumber.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Dalam forum tersebut, peserta menerapkan pendekatan Participatory Ecotheological Assessment (PEA) melalui pemaparan hasil survei lapangan, validasi data, dan diskusi pada empat bidang utama, yakni aspek biofisik dan geomorfologi, sosial-spiritual, tata kelola, serta indikator dan sistem pemantauan.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penyusunan rencana tindak lanjut pada 25–27 Juni 2026 di Rumah Adat Mandar, Benteng Somba Opu.

Program POSTCHE-EHRF merupakan penelitian yang didanai melalui skema MoRA The AIR Funds LPDP Kementerian Agama Republik Indonesia periode 2025–2027. Penelitian dilaksanakan secara kolaboratif oleh Kementerian Agama RI, IAIN Kendari, LPDP, IAIN Bone, Universitas Negeri Makassar, FISS, Yayasan Bumi Toala Indonesia, MAPALASTA UIN Alauddin Makassar, serta WIRPALA Politani Pangkep, dengan Dr. Andi Yaqub, M.H.I. sebagai Principal Investigator.

Keterlibatan MAPALASTA merupakan kelanjutan dari observasi lapangan yang telah dilaksanakan pada April 2026 bersama tim peneliti lintas disiplin di kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng. Dalam FGD tersebut, MAPALASTA tidak hanya mengikuti proses validasi konsep Ecotheological Humanitarian Restoration Framework (EHRF), tetapi juga mendukung pelaksanaan kegiatan dan memfasilitasi partisipasi organisasi MAPALA PTKIN dari berbagai daerah di Indonesia Timur.

Selain mendukung pelaksanaan riset, MAPALASTA mendorong agar forum ilmiah tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi organisasi pecinta alam perguruan tinggi dalam memperkuat peran generasi muda pada isu konservasi, kebencanaan, kemanusiaan, dan pelestarian lingkungan.

FGD turut menghadirkan Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan, dan Moderasi Beragama, Dr. Farid F. Saenong, serta Ketua LPPM UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung sekaligus Reviewer Nasional, Prof. Dr. Ngainun Naim. Keduanya memberikan masukan terkait penguatan nilai-nilai ekoteologi dalam penyempurnaan konsep EHRF.

Ketua LPPM IAIN Kendari, Dr. Abdul Kadir, M.Pd., mengatakan keterlibatan pemangku adat dan tokoh agama menjadi bagian penting dalam memastikan kerangka pemulihan yang disusun memiliki landasan ilmiah sekaligus memperhatikan nilai-nilai yang hidup di masyarakat.

“Kehadiran para pemangku adat dan tokoh agama merupakan bagian penting dalam proses penyusunan kerangka pemulihan. Pengetahuan lokal dan nilai-nilai spiritual menjadi unsur yang tidak terpisahkan dalam upaya pemulihan kawasan Bulu Bawakaraeng,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti, Dr. Andi Yaqub, M.H.I., menegaskan bahwa FGD dirancang sebagai ruang kolaborasi berbagai pihak dalam menyusun model pemulihan kawasan.

“FGD ini bukan forum akademisi yang menggurui masyarakat, melainkan ruang pertemuan berbagai bentuk pengetahuan untuk bersama-sama menyusun kerangka pemulihan yang relevan, ilmiah, dan berakar pada nilai-nilai lokal,” katanya.

Menurut tim peneliti, pendekatan ekoteologi yang dikembangkan dalam penelitian ini diharapkan dapat memperkaya perspektif konservasi, dengan menempatkan pelestarian lingkungan sebagai tanggung jawab ekologis, sosial, dan moral.

Semangat tersebut juga dibahas dalam Sharing Session MAPALA PTKIN Indonesia Timur yang diinisiasi MAPALASTA setelah pelaksanaan FGD. Forum itu menjadi wadah berbagi pengalaman antarlembaga mengenai tantangan konservasi di berbagai daerah sekaligus membahas penguatan jejaring organisasi dalam merespons isu lingkungan, kebencanaan, dan kemanusiaan.

Dari proses validasi yang dilakukan, forum menghasilkan sejumlah rekomendasi awal, antara lain penyempurnaan komponen kerangka pemulihan yang mengintegrasikan pendekatan ekoteologi Islam, pengetahuan adat, dan tata kelola pelestarian; identifikasi prioritas lokasi restorasi beserta pertimbangan etika pemanfaatan kawasan yang memiliki nilai budaya dan spiritual; penyusunan peta aktor serta mekanisme koordinasi lintas lembaga; dan perumusan indikator awal pemantauan pada aspek biofisik, sosial-spiritual, serta tata kelola.

Forum juga mencatat sejumlah lokasi yang memiliki nilai sejarah dan budaya di kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng sebagai bagian dari pemetaan kawasan yang akan menjadi bahan kajian lebih lanjut dalam penelitian.

Seluruh hasil FGD akan menjadi bahan penyempurnaan Ecotheological Humanitarian Restoration Framework (EHRF) sekaligus rekomendasi awal bagi para pemangku kebijakan. Tim peneliti juga akan menindaklanjuti hasil kegiatan melalui audiensi dengan pemerintah daerah serta penyusunan artikel ilmiah dan naskah kebijakan sebagai bagian dari target penelitian periode 2025–2027.

Sebagai tindak lanjut, MAPALASTA berencana menggelar diskusi terbuka pada akhir Juli 2026 untuk mendiseminasikan hasil awal penelitian sekaligus memperluas dialog publik mengenai pemulihan kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng melalui pendekatan ekologi, kemanusiaan, dan ekoteologi.

Bagi MAPALASTA, keterlibatan dalam penelitian POSTCHE-EHRF merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, pengabdian kepada masyarakat, serta upaya konservasi lingkungan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. (*)

Anda Mungkin Juga Menyukai

SKK Migas dan Polda Kaltim Perkuat Sinergi Pengamanan Hulu Migas
Tahap Konstruksi, Pemotongan Baja Perdana untuk Pengembangan Lapangan Gas Laut di Indonesia
Dialog Publik Soroti Kerusakan Gunung Bulu Bawakaraeng, Kolaborasi Mahasiswa Pecinta Alam Dorong Perlindungan Serius
Shinta Kamdani Lantik APINDO Kaltara, Fokus Ciptakan Lapangan Kerja Baru
APINDO Kaltara Resmi Dikukuhkan, Siap Dorong Investasi dan Industri Hijau
Bagikan Artikel ini
Facebook Copy Link Print

Berita Terbaru

Jika Praperadilan Febrie Diansyah Dikabulkan, Pengamat: Penggeledahan dan Penyitaan Aset Batal Demi Hukum
Hukum
21 Agustus 2026
Bukan Uang atau 74kg Emas, Febrie Adriansyah Hanya Minta Barang Pribadi hingga Foto Keluarga Dikembalikan
Hukum
20 Agustus 2026
1.062 Narapidana Terima Remisi Kemerdekaan, 11 Orang Langsung Hirup Udara Bebas
Hukum
17 Agustus 2026
Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Jaksa Hari Wibowo
Hukum
15 Agustus 2026

Berita Terhangat

BeritaKomunitas

Gelar Diskusi, DPW SPEDA Sulsel Dukung Penguatan Transformasi UMKM Desa Go Digital

7 Juli 2026
Pendidikan

Sekolah Lansia NURANI Hadir di Tarakan, Ajak Lansia Tetap Aktif dan Bahagia

2 Juli 2026
Pendidikan

Bukan Pencari Kerja, Pemuda Tarakan Ini Pilih Jadi Pencipta Lapangan Kerja

30 Juni 2026
BeritaEkonomiPasarProv. KaltaraTarakan

Senam Sehat Pasar Ikan Higienis

28 Juni 2026
Sebelumnya Berikutnya
Info IndoInfo Indo
© 2024 - Infoindo.co.id | All Rights Reserved.
  • Instagram
  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Kehilangan Password ?