GOWA – Mahasiswa Pencinta Alam Sultan Alauddin Makassar (MAPALASTA) berpartisipasi dalam Focus Group Discussion (FGD) Validasi Konsep Post-Complex Humanitarian Emergency: Ecotheological Humanitarian Restoration Framework (POSTCHE-EHRF) yang digelar pada 24–25 Juni 2026 di Baruga Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Keterlibatan MAPALASTA menjadi bagian dari kolaborasi riset nasional yang bertujuan menyusun kerangka pemulihan kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng pascakeadaan darurat melalui pendekatan yang mengintegrasikan ekoteologi Islam, pengetahuan lokal, kajian geomorfologi, dan tata kelola pelestarian lingkungan.
Gunung Bulu Bawakaraeng dipilih sebagai lokasi penelitian karena dinilai memiliki kerentanan geomorfologis sekaligus menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang berkembang di tengah masyarakat.
FGD diikuti 77 peserta dan 37 peninjau dari berbagai unsur, di antaranya pemangku adat kawasan Bulu Bawakaraeng, tokoh agama, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan, PUSDAL Lingkungan Hidup SUMA, organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (MAPALA PTKIN), komunitas pecinta alam, akademisi, serta sejumlah narasumber.
Dalam forum tersebut, peserta menerapkan pendekatan Participatory Ecotheological Assessment (PEA) melalui pemaparan hasil survei lapangan, validasi data, dan diskusi pada empat bidang utama, yakni aspek biofisik dan geomorfologi, sosial-spiritual, tata kelola, serta indikator dan sistem pemantauan.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penyusunan rencana tindak lanjut pada 25–27 Juni 2026 di Rumah Adat Mandar, Benteng Somba Opu.
Program POSTCHE-EHRF merupakan penelitian yang didanai melalui skema MoRA The AIR Funds LPDP Kementerian Agama Republik Indonesia periode 2025–2027. Penelitian dilaksanakan secara kolaboratif oleh Kementerian Agama RI, IAIN Kendari, LPDP, IAIN Bone, Universitas Negeri Makassar, FISS, Yayasan Bumi Toala Indonesia, MAPALASTA UIN Alauddin Makassar, serta WIRPALA Politani Pangkep, dengan Dr. Andi Yaqub, M.H.I. sebagai Principal Investigator.
Keterlibatan MAPALASTA merupakan kelanjutan dari observasi lapangan yang telah dilaksanakan pada April 2026 bersama tim peneliti lintas disiplin di kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng. Dalam FGD tersebut, MAPALASTA tidak hanya mengikuti proses validasi konsep Ecotheological Humanitarian Restoration Framework (EHRF), tetapi juga mendukung pelaksanaan kegiatan dan memfasilitasi partisipasi organisasi MAPALA PTKIN dari berbagai daerah di Indonesia Timur.
Selain mendukung pelaksanaan riset, MAPALASTA mendorong agar forum ilmiah tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi organisasi pecinta alam perguruan tinggi dalam memperkuat peran generasi muda pada isu konservasi, kebencanaan, kemanusiaan, dan pelestarian lingkungan.
FGD turut menghadirkan Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan, dan Moderasi Beragama, Dr. Farid F. Saenong, serta Ketua LPPM UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung sekaligus Reviewer Nasional, Prof. Dr. Ngainun Naim. Keduanya memberikan masukan terkait penguatan nilai-nilai ekoteologi dalam penyempurnaan konsep EHRF.
Ketua LPPM IAIN Kendari, Dr. Abdul Kadir, M.Pd., mengatakan keterlibatan pemangku adat dan tokoh agama menjadi bagian penting dalam memastikan kerangka pemulihan yang disusun memiliki landasan ilmiah sekaligus memperhatikan nilai-nilai yang hidup di masyarakat.
“Kehadiran para pemangku adat dan tokoh agama merupakan bagian penting dalam proses penyusunan kerangka pemulihan. Pengetahuan lokal dan nilai-nilai spiritual menjadi unsur yang tidak terpisahkan dalam upaya pemulihan kawasan Bulu Bawakaraeng,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim Peneliti, Dr. Andi Yaqub, M.H.I., menegaskan bahwa FGD dirancang sebagai ruang kolaborasi berbagai pihak dalam menyusun model pemulihan kawasan.
“FGD ini bukan forum akademisi yang menggurui masyarakat, melainkan ruang pertemuan berbagai bentuk pengetahuan untuk bersama-sama menyusun kerangka pemulihan yang relevan, ilmiah, dan berakar pada nilai-nilai lokal,” katanya.
Menurut tim peneliti, pendekatan ekoteologi yang dikembangkan dalam penelitian ini diharapkan dapat memperkaya perspektif konservasi, dengan menempatkan pelestarian lingkungan sebagai tanggung jawab ekologis, sosial, dan moral.
Semangat tersebut juga dibahas dalam Sharing Session MAPALA PTKIN Indonesia Timur yang diinisiasi MAPALASTA setelah pelaksanaan FGD. Forum itu menjadi wadah berbagi pengalaman antarlembaga mengenai tantangan konservasi di berbagai daerah sekaligus membahas penguatan jejaring organisasi dalam merespons isu lingkungan, kebencanaan, dan kemanusiaan.
Dari proses validasi yang dilakukan, forum menghasilkan sejumlah rekomendasi awal, antara lain penyempurnaan komponen kerangka pemulihan yang mengintegrasikan pendekatan ekoteologi Islam, pengetahuan adat, dan tata kelola pelestarian; identifikasi prioritas lokasi restorasi beserta pertimbangan etika pemanfaatan kawasan yang memiliki nilai budaya dan spiritual; penyusunan peta aktor serta mekanisme koordinasi lintas lembaga; dan perumusan indikator awal pemantauan pada aspek biofisik, sosial-spiritual, serta tata kelola.
Forum juga mencatat sejumlah lokasi yang memiliki nilai sejarah dan budaya di kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng sebagai bagian dari pemetaan kawasan yang akan menjadi bahan kajian lebih lanjut dalam penelitian.
Seluruh hasil FGD akan menjadi bahan penyempurnaan Ecotheological Humanitarian Restoration Framework (EHRF) sekaligus rekomendasi awal bagi para pemangku kebijakan. Tim peneliti juga akan menindaklanjuti hasil kegiatan melalui audiensi dengan pemerintah daerah serta penyusunan artikel ilmiah dan naskah kebijakan sebagai bagian dari target penelitian periode 2025–2027.
Sebagai tindak lanjut, MAPALASTA berencana menggelar diskusi terbuka pada akhir Juli 2026 untuk mendiseminasikan hasil awal penelitian sekaligus memperluas dialog publik mengenai pemulihan kawasan Gunung Bulu Bawakaraeng melalui pendekatan ekologi, kemanusiaan, dan ekoteologi.
Bagi MAPALASTA, keterlibatan dalam penelitian POSTCHE-EHRF merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, pengabdian kepada masyarakat, serta upaya konservasi lingkungan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. (*)


