MEDAN – Di antara 196 pemuda dari 98 kota se-Indonesia yang berkumpul di Hotel Le’Polonia Medan, ada satu nama dari ujung utara Kalimantan yang hadir membawa misi besar. Namanya Abdul Salam Arsyad Putra, delegasi muda dari Kota Tarakan yang terpilih mewakili kotanya dalam forum bergengsi Youth City Changers (YCC) 2026 Batch 5.
Forum yang digelar sebagai bagian dari Rakernas XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) ini berlangsung pada 28–30 Juni 2026 dengan tema besar “Orang Muda Tangguh untuk Indonesia”.
Abdul Salam hadir bukan sekadar ikut-ikutan. Ia datang dengan presentasi terukur, data faktual, dan gagasan konkret yang siap disuarakan di hadapan ratusan pemuda dari seluruh penjuru negeri.
Sebelum berangkat ke Medan, Abdul Salam sudah menyiapkan satu tugas wajib yang diminta panitia YCC. Yaitu presentasi lima slide tentang tantangan orang muda di kota asal dan inisiatif solusinya.
Ia pun tidak memilih tema yang biasa-biasa saja. Abdul Salam mengangkat isu yang selama ini jarang disorot secara terbuka. Isu krisis orientasi kerja pemuda jadi pilihannya. Berdasarkan data BPS Kota Tarakan tahun 2025, jumlah pengangguran di kota tersebut mencapai sekitar 6.216 orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,8 persen. Tapi baginya, angka itu hanyalah permukaan.
“Yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi di balik angkanya,” ujarnya.
Survei program pelatihan vokasi dan UMKM di Tarakan menunjukkan bahwa 60 persen peserta belum siap memasuki pasar kerja modern. Bukan karena malas, tapi karena ada kesenjangan besar antara keterampilan yang dimiliki dan kebutuhan industri nyata.
Lebih dari itu, sekitar 70 persen pemuda Tarakan masih berorientasi menjadi pencari kerja. Mereka mengincar posisi formal di pemerintahan atau perusahaan. Hanya sekitar 30 persen yang berani mencoba jalur wirausaha atau mengembangkan proyek inovatif mandiri.
“Ini bukan sekadar masalah lapangan kerja. Ini soal pola pikir,” kata Abdul Salam.
Bukan hanya mengeluh, Abdul Salam datang ke YCC 2026 dengan lima tawaran solusi yang ia rangkum dalam kerangka besar bertajuk “Dari Job Seeker Menjadi Job Creator”.
Pertama, ia mengusulkan pembentukan Youth Entrepreneur Incubator Tarakan. Sebuah wadah pelatihan bisnis, kompetisi ide usaha, sekaligus akses permodalan bagi anak muda yang ingin membangun usaha berbasis potensi lokal Tarakan.
Kedua, ada Tarakan Youth Project Challenge, yakni kompetisi proyek lintas bidang seperti sosial, ekonomi, lingkungan, hingga digital yang dirancang untuk menjawab masalah nyata kota. Output yang diharapkan bukan hanya proyek keren di atas kertas, tapi pemuda yang punya portofolio, kemampuan kepemimpinan, dan naluri problem solving.
Ketiga, program One Village One Young Entrepreneur sebagai pendampingan usaha unggulan di setiap kelurahan Tarakan. Ini bukan program besar-besaran yang butuh modal raksasa, tapi intervensi tepat sasaran yang bisa menciptakan lapangan kerja baru sekaligus memperkuat ekonomi lokal secara organik.
Keempat, Digital Freelancer Academy yang menyasar generasi muda dengan pelatihan desain grafis, digital marketing, AI tools, video editing, hingga cara memanfaatkan platform freelance marketplace. Tujuannya agar pemuda Tarakan bisa menghasilkan uang tanpa harus bergantung pada lowongan kerja formal.
Kelima, Tarakan Talent Hub. Sebuah ekosistem pengembangan talenta yang menggabungkan talent mapping, skill development, dan innovation fund. Di sinilah semua program sebelumnya bertemu dan bekerja bersama.
“Kalau semua ini berjalan, saya percaya pemuda Tarakan bisa bertransformasi, bukan lagi jadi pencari kerja, tapi pencipta kerja dan pengubah kota,” tegasnya.
Yang membuat presentasi Abd. Salam berbeda bukan hanya soal ide, tapi bahwa ia sudah terlibat langsung dalam salah satu inisiatif yang ia usung.
Sebagai lulusan Universitas Borneo Tarakan, ia menggagas gerakan yang ia beri nama “Borneo Young Entrepreneur Movement”. Gerakan ini memanfaatkan momentum unik. Universitas Borneo Tarakan sendiri telah mendeklarasikan visinya sebagai kampus yang tidak hanya mencetak pekerja, tapi pencipta peluang.
Abdul Salam mengambil posisi sebagai inisiator sekaligus penghubung antara tiga pihak. Universitas Borneo Tarakan, BPC HIPMI Tarakan (jaringan pengusaha muda) dan Pemerintah Daerah.
Dari kolaborasi itu, ia membangun beberapa program konkret. Pengembangan gagasan kewirausahaan, pembentukan startup project, Business Challenge, hingga menghadirkan program mentoring dari praktisi bisnis nyata.
“Saya ingin pemuda Tarakan tidak berhenti di langkah pertama. Kita harus terus bergerak sampai bisa menciptakan sesuatu yang berdampak bagi orang lain,” ujarnya.
Youth City Changers 2026 sendiri bukan forum biasa. Diselenggarakan oleh APEKSI bersama Pemerintah Kota Medan, forum ini menjadi ruang kolaborasi nasional bagi 196 pemuda dari 98 kota di seluruh Indonesia untuk saling bertukar gagasan, berdiskusi, dan merumuskan rekomendasi bersama.
Selama tiga hari penuh, para peserta mengikuti serangkaian kegiatan mulai dari sesi berbagi inspirasi bersama narasumber dari pemerintah pusat dan daerah, Kombur I (presentasi ide 90 detik per delegasi), Kombur II (diskusi kelompok bergaya warung kopi), aksi nyata bersih Sungai Babura, hingga malam ekspresi budaya daerah.
Di akhir forum, delegasi terbaik akan dipilih dan diberi kehormatan membacakan rekomendasi YCC 2026 pada pembukaan Rakernas APEKSI.
Bagi Abdul Salam, keikutsertaannya di YCC 2026 bukan sekadar pengalaman atau prestasi pribadi. Ini adalah kesempatan untuk membawa suara Tarakan yang sering luput dari sorotan nasional ke panggung yang lebih besar.
“Kota kami punya tantangan yang nyata. Tapi kami juga punya anak muda yang luar biasa. Yang kita butuhkan adalah ekosistem yang mendukung mereka untuk berkembang,” ujarnya. (*)
Reporter: Arif Rusman


