TARAKAN – Kekurangan tenaga guru berdasarkan data SDM di aplikasi Kementerian Dikdas Menegah tercatat sebanyak 310 tenaga pengajar. Imbasnya, sejumlah mata pelajaran di sekolah-sekolah mengalami kekosongan tenaga pendidik.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Tamrin Toha mengatakan, angka kebutuhan tersebut masih dapat berubah seiring adanya guru yang pensiun, mutasi, maupun meninggal dunia.
“Kalau dilihat dari perhitungan sampai Desember mendatang, kita masih ada kekurangan tenaga guru,” kata Tamrin, Selasa (15/9).
Kondisi kekurangan tenaga guru ini, kata Tamrin, imbas dari kebijakan pemerintah pusat yang membatasi penambahan tenaga baru dalam mengisi kekosongan tenaga pendidik. Disdik Tarakan mengatasi dengan bekerjasama kampus melalui program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) menempatkan mahasiswa di sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan tenaga guru.
“Mereka praktik. Fungsinya mengisi pelajaran di kelas, untuk membantu proses pembelajaran selama masa praktik,” terangnya.
Tamrin menegaskan, mahasiswa PLP tidak berstatus sebagai guru dan keberadaannya tentu tidak menggantikan kebutuhan tenaga pendidik secara permanen.
“Mahasiswa PLP posisinya tetap sebagai peserta praktik. Mereka membantu saja proses pembelajaran selama berada di sekolah. Untuk kebutuhan jangka panjang, tetap diperlukan pemenuhan tenaga pendidik,” ujarnya.
Dijelaskan Tamrin, pemerintah daerah telah melakukan audiensi bersama Kemendikdasmen terkait kekurangan guru yang dialami Pemkot Tarakan. Salah satu usulan yang diajukan adalah dengan membuka Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tenaga guru.
“Kita sudah menyampaikan data kekurangan dan usulan-usulan. Kami juga disarankan untuk menghitung kekurangan tenaga guru dan kembali berkoordinasi dengan pusat,” terangnya. (*)



