Info IndoInfo IndoInfo Indo
  • Beranda
  • Nasional
  • Kaltara
    • Kota Tarakan
    • Kabupaten Bulungan
    • Kabupaten Nunukan
    • Kabupaten Malinau
    • Kabupaten Tana Tidung
  • Advertorial
  • Hukrim
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
Bacaan : 60 Tahun KOHATI: Meneguhkan NDP serta Mendinamiskan Gerak
Bagikan
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Info IndoInfo Indo
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
Search
  • Beranda
  • Nasional
  • Kaltara
    • Kota Tarakan
    • Kabupaten Bulungan
    • Kabupaten Nunukan
    • Kabupaten Malinau
    • Kabupaten Tana Tidung
  • Advertorial
  • Hukrim
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
Ikuti Kami
© 2025 Facesia.com
Info Indo > Opini > 60 Tahun KOHATI: Meneguhkan NDP serta Mendinamiskan Gerak

60 Tahun KOHATI: Meneguhkan NDP serta Mendinamiskan Gerak

Arif Rusman
Arif Rusman
Published: 9 September 2026
Bagikan
11 Minimal Baca
Ellisa Wulan Oktavia, Wasekum Kohati PB HMI.
Bagikan

ENAM puluh tahun bukan sekadar angka. Bagi sebuah organisasi, usia enam dekade merupakan perjalanan panjang yang menyimpan sejarah, pergulatan gagasan, dinamika kaderisasi, sekaligus tanggung jawab untuk terus menjawab perubahan zaman. Enam puluh tahun KOHATI, karena itu, tidak cukup hanya diperingati dengan menengok apa yang telah dilakukan. Ia perlu menjadi momentum untuk bertanya lebih jauh: nilai apa yang sesungguhnya menjadi pijakan KOHATI, dan sejauh mana nilai tersebut masih mampu mengarahkan gerak perjuangan hari ini?

Penulis:

- Advertisement -
Ad imageAd image

Ellisa Wulan Oktavia
Wasekum Kohati PB HMI

Pertanyaan itu penting karena organisasi tidak pernah hidup dalam ruang yang tetap. Masyarakat berubah, teknologi berkembang, struktur ekonomi bergeser, dan persoalan perempuan hadir dalam bentuk-bentuk baru. Apa yang menjadi persoalan perempuan enam puluh tahun lalu tentu tidak sepenuhnya sama dengan persoalan perempuan hari ini.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Perempuan hari ini menghadapi persoalan yang semakin kompleks: kekerasan berbasis gender, ketimpangan ekonomi, pekerjaan yang rentan, keterbatasan akses terhadap sumber daya, diskriminasi di ruang pendidikan dan pekerjaan, beban pengasuhan yang tidak berimbang, hingga kekerasan dan eksploitasi yang berlangsung melalui ruang digital. Persoalan-persoalan tersebut tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan struktur sosial, budaya, ekonomi, politik, bahkan perkembangan teknologi.

Dalam situasi seperti ini, KOHATI tidak cukup hanya memiliki keberanian untuk bersuara. KOHATI membutuhkan kemampuan untuk membaca perubahan, memproduksi pengetahuan, membangun strategi, dan menghadirkan solusi.

Di sinilah Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI menemukan relevansinya.

NDP semestinya tidak berhenti sebagai materi yang dipelajari dalam ruang pelatihan atau sekadar seperangkat nilai dalam proses perkaderan. NDP harus menjadi cara pandang dalam membaca realitas sekaligus kompas dalam menentukan arah perjuangan. Sebab, nilai memiliki makna ketika ia mampu memandu tindakan.

Dalam kerangka NDP, pembahasan mengenai Tawhīd dan kemerdekaan manusia memberikan fondasi penting bagi kader memandang dirinya dan kehidupan. Kemerdekaan manusia bukan sekadar kebebasan dari tekanan fisik, melainkan pembebasan dari berbagai bentuk penghambaan yang merendahkan martabat manusia selain kepada Allah.

Dalam konteks perjuangan KOHATI, gagasan ini memiliki konsekuensi yang besar. Perempuan harus dipandang sebagai manusia yang memiliki martabat, akal, kehendak, kapasitas, dan tanggung jawab. Perempuan bukan objek yang sekadar menerima keputusan, melainkan subjek yang memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan dan mengambil bagian dalam kehidupan sosial.

Karena itu, perjuangan perempuan tidak semestinya diposisikan berhadapan dengan nilai-nilai keislaman. Sebaliknya, perjuangan untuk membangun relasi yang adil dan menjaga martabat manusia justru merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan nyata.

Namun, di titik ini KOHATI juga perlu berhati-hati. Perjuangan keperempuanan tidak boleh kehilangan akar etik dan spiritualnya. Pada saat yang sama, keberislaman tidak cukup berhenti pada identitas dan kesalehan personal. Ia harus menemukan perwujudannya dalam keberpihakan terhadap keadilan, pembelaan terhadap martabat manusia, serta ikhtiar membebaskan manusia dari berbagai bentuk ketidakadilan. Dalam kerangka ini, nilai-nilai Islam tidak cukup hanya diyakini, tetapi harus diterjemahkan menjadi keberpihakan konkret terhadap persoalan manusia.

NDP juga menempatkan manusia dalam relasinya dengan masyarakat. Individu tidak hidup dalam kesendirian. Ada tanggung jawab untuk membina diri sekaligus mengambil bagian dalam perbaikan kehidupan bersama. Dalam konteks kader HMI Wati, pembinaan personal, karena itu, tidak boleh berhenti pada pembentukan kapasitas individu.

Kader yang berilmu, berintegritas, dan memiliki kesadaran keislaman harus mampu mentransformasikan kapasitas tersebut menjadi kontribusi nyata ditengah masyarakat.

Di sinilah kaderisasi menjadi penting. KOHATI tidak hanya perlu melahirkan perempuan yang percaya diri memasuki ruang publik, tetapi juga perempuan yang mampu memahami persoalan, menguasai pengetahuan, membaca struktur, membangun strategi, dan berani mengambil keputusan.

Perempuan yang hadir di ruang publik tanpa kapasitas tentu belum cukup. Sebaliknya, kapasitas yang tidak pernah dibawa untuk menjawab persoalan sosial juga kehilangan daya transformatifnya.

Salah satu tantangan terbesar gerakan keperempuanan adalah kecenderungan melihat persoalan perempuan hanya sebagai persoalan individual.

Padahal, ketika seorang perempuan mengalami kekerasan, ketika perempuan kehilangan akses terhadap pendidikan, ketika pekerja perempuan berada dalam kondisi rentan, atau ketika perempuan miskin kesulitan memperoleh sumber penghidupan yang layak, persoalannya tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan meminta individu tersebut menjadi lebih kuat.

Ada struktur yang perlu dibaca.

Ada kebijakan yang perlu dikritisi.

Ada relasi kuasa yang perlu dipertanyakan.

Karena itu, gagasan tentang keadilan sosial dan keadilan ekonomi dalam NDP harus memperoleh tempat penting dalam arah gerak KOHATI. Perjuangan perempuan pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang kesempatan individual, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dibangun agar tidak terus-menerus menghasilkan ketidakadilan.

Keberpihakan kepada kelompok mustadh’afin (lemah), dengan demikian, bukan sekadar pilihan program. Ia merupakan konsekuensi moral dari perjuangan untuk menghadirkan keadilan.

KOHATI perlu memastikan bahwa gerakannya tidak hanya terdengar di ruang-ruang yang telah memiliki akses dan sumber daya, tetapi juga sampai kepada perempuan yang selama ini berada di pinggir: perempuan miskin, pekerja rentan, perempuan korban kekerasan, perempuan di wilayah dengan akses terbatas, dan kelompok perempuan lain yang suaranya kerap tidak terdengar dalam pengambilan keputusan.

Sebab, ukuran keberhasilan gerakan tidak semata-mata dapat dilihat dari seberapa banyak kegiatan dilakukan atau seberapa sering isu perempuan dibicarakan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh gerakan tersebut mampu mengubah kondisi yang melahirkan ketidakadilan.

Namun, menjadikan NDP sebagai fondasi tidak berarti KOHATI harus bergerak dengan cara-cara lama.

Justru di sinilah paradoks sekaligus tantangan organisasi muncul: nilai harus teguh, tetapi metode harus dinamis.

KOHATI tidak perlu mengubah fondasi ideologisnya hanya karena zaman berubah. Yang perlu berubah adalah cara menerjemahkan nilai tersebut agar tetap relevan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat.

HMI Wati perlu memiliki kemampuan untuk mempertahankan prinsip, tetapi sekaligus terbuka terhadap perkembangan pengetahuan, teknologi, dan perubahan sosial.

Perjuangan perempuan hari ini, misalnya, tidak dapat dilepaskan dari ruang digital. Advokasi tidak cukup hanya dilakukan melalui forum-forum konvensional. Produksi pengetahuan harus hadir dalam berbagai medium. Teknologi, termasuk kecerdasan artifisial, perlu dipahami bukan semata sebagai ancaman, tetapi juga sebagai instrumen yang dapat digunakan untuk memperkuat pendidikan, riset, kampanye, dan advokasi, tentu dengan tetap mempertimbangkan etika dan tanggung jawab dalam penggunaannya.

Demikian pula dengan kerja-kerja advokasi. KOHATI perlu bergerak dari sekadar merespons isu menjadi organisasi yang mampu mengantisipasi isu; dari sekadar menyampaikan pendapat menjadi organisasi yang mampu menyediakan basis data dan pengetahuan; dari aktivisme yang bersifat seremonial menjadi gerakan yang dapat diukur dampaknya.

Dengan kata lain, KOHATI membutuhkan keberanian untuk melakukan modernisasi gerakan tanpa kehilangan orientasi nilainya.

Gerakan membutuhkan Jalal: keberanian, ketegasan, daya juang, dan kemampuan untuk berhadapan dengan ketidakadilan. Tetapi gerakan juga membutuhkan Jamal: kepekaan, empati, kebijaksanaan, dan kemampuan merawat kehidupan. Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan.

Keberanian tanpa kepekaan dapat menjadikan gerakan kehilangan kemanusiaannya. Sebaliknya, kepekaan tanpa keberanian dapat membuat gerakan berhenti pada simpati tanpa perubahan. KOHATI membutuhkan keduanya.

Kader perempuan harus mampu memiliki ketajaman intelektual sekaligus kedalaman moral; berani memasuki ruang-ruang strategis sekaligus mampu merawat masyarakat; kritis terhadap kekuasaan, tetapi tidak kehilangan kebijaksanaan dalam menggunakan kekuasaan.

Pada titik ini, perjuangan KOHATI bukan sekadar persoalan membagi peran antara laki-laki dan perempuan, domestik dan publik, atau internal dan eksternal. Lebih dari itu, ia merupakan upaya membangun keseimbangan yang memungkinkan setiap potensi manusia bekerja secara optimal untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Pada akhirnya, perjuangan KOHATI tidak boleh berhenti pada pertanyaan: berapa banyak perempuan yang telah berhasil masuk ke ruang publik?

Pertanyaan yang lebih penting adalah: untuk apa kehadiran tersebut?

Jika perempuan masuk ke ruang kekuasaan tetapi kemudian mereproduksi ketidakadilan yang sama, maka representasi belum tentu menghasilkan transformasi.

Karena itu, orientasi perjuangan perlu diarahkan pada sesuatu yang lebih mendasar: terwujudnya kehidupan yang adil dan bermartabat.

Di sinilah gagasan Peradaban Mizan menemukan tempatnya. Mizan memberi horizon bahwa perjuangan tidak ditujukan untuk mengganti dominasi satu kelompok dengan dominasi kelompok lain. Yang hendak dibangun adalah tatanan kehidupan yang lebih adil, seimbang, dan manusiawi.

KOHATI, dengan demikian, tidak hanya memperjuangkan perempuan untuk perempuan. Perjuangan KOHATI pada akhirnya merupakan bagian dari perjuangan kemanusiaan.

Enam puluh tahun KOHATI seharusnya tidak menjadi alasan untuk berpuas diri karena telah memiliki sejarah yang panjang. Justru sejarah panjang melahirkan tanggung jawab yang lebih besar: memastikan nilai yang diwariskan tetap hidup dan mampu menjawab zamannya.

NDP tidak boleh menjadi dokumen yang hanya dikenang. Ia harus menjadi kesadaran yang bekerja dan peradaban Mizan tidak boleh sekadar menjadi cita-cita. Ia harus menjadi orientasi dari setiap kerja perjuangan.

Karena itu, memasuki enam dekade perjalanannya, KOHATI tidak membutuhkan perubahan nilai. KOHATI membutuhkan keberanian untuk menerjemahkan nilai ke dalam bahasa zamannya.

Teguh pada Tawhīd dan kemerdekaan manusia.
Kuat dalam membina individu dan memperbaiki masyarakat.
Berpihak pada keadilan sosial dan ekonomi.
Berani membaca perubahan.
Terampil menggunakan pengetahuan dan teknologi.
Dan tetap menempatkan kemanusiaan sebagai orientasi perjuangan.

Sebab, enam puluh tahun bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah momentum untuk memastikan bahwa KOHATI tidak hanya mewarisi sejarah, tetapi juga mampu menciptakan sejarah baru. NDP menjadi kompasnya, sedangkan Peradaban Mizan menjadi horizon perjuangannya.

Dan dari sanalah KOHATI dapat terus bergerak: teguh pada nilai, dinamis  dalam gerak, dan nyata dalam menghadirkan keadilan. (*)

Anda Mungkin Juga Menyukai

Tarif PBJT ditetapkan 10%, Untuk Restoran Penyedia Makanan dan Minuman
Setahun Kinerja Ketua DPRD Kaltara
Pendidikan Inklusi, Pendidikan Untuk Semua
Setiap Tahun PANCASILA diperingati Dalam Dua Momen
Proses Sakral Lahirnya Falsafah Bangsa Indonesia
Bagikan Artikel ini
Facebook Copy Link Print

Berita Terbaru

BAP Ungkap Kesaksian Tan Kian Soal Aliran Dana Rp 40 Miliar Hanya Bersifat Dugaan
Hukum
9 September 2026
Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Perkuat Pengawasan dan Pembinaan SPBU
Ekonomi
8 September 2026
Mahasiswa Hukum UBT Dibekali Praktik Kerja Profesi dan Kuliah Umum Bersama Praktisi
Pendidikan
29 Agustus 2026
Kuasa Hukum Hormati Putusan Hakim Tolak Praperadilan Febrie Adriansyah
Hukum
28 Agustus 2026

Berita Terhangat

Opini

Sejarah Hari Lahir Pancasila 1 Juni dan Terbentuknya BPUPKI 

2 Oktober 2023
Opini

Masjid Modern Hujan As Salam Berbahagia Bersama Santri

23 Januari 2023
Opini

Kampanye Sebagai Strategi Komunikasi Politik: Formulasi Program Pemerintah Kalimantan Timur dalam Menduduki Kursi Jabatan Daerah

3 November 2022
Opini

Tindakan Represif Menodai HUT TNI Ke-77 Tahun

5 Oktober 2022
Sebelumnya Berikutnya
Info IndoInfo Indo
© 2024 - Infoindo.co.id | All Rights Reserved.
  • Instagram
  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Kehilangan Password ?