TARAKAN – Universitas Borneo Tarakan (UBT) menggelar kegiatan Pra-yudisium pada, Selasa 31 Maret 2026. Kegiatan ini sebagai pembekalan bagi para calon wisudawan dan wisudawati sebelum memasuki dunia kerja. Kegiatan ini dirancang untuk mempersiapkan lulusan agar lebih siap menghadapi tantangan di dunia profesional, baik sebagai karyawan, praktisi, maupun wirausaha.
Branch Manager Mandiri Tarakan Simpang Tiga (Tarsiga) sekaligus Narasumber pada kegiatan tersebut, Dr. M. Ari Hardianto, ST., MM menjelaskan pra-yudisium merupakan rangkaian pembekalan yang menghadirkan sejumlah pemateri dari berbagai latar belakang, mulai dari praktisi perbankan, entrepreneur alumni, hingga dosen dan pimpinan fakultas.
“Pra-yudisium itu kegiatan yang dilakukan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UBT untuk mempersiapkan para wisudawan dan wisudawati sebelum melangkah ke real world. Ada pembekalan dari praktisi, entrepreneur, dosen, dan dekan,” ujarnya.
Dalam materinya, Ari menekankan sejumlah keterampilan penting yang perlu dimiliki lulusan baru, di antaranya kemampuan membangun komunikasi dan kepercayaan, disiplin dan orientasi target, kemampuan presentasi dan storytelling, analisis serta membaca peluang, dan kemampuan belajar cepat.
“Yang paling penting itu skill membangun komunikasi dan trust, disiplin, target orientasi, presentasi dan storytelling, analisa dan membaca peluang, serta belajar cepat,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya kesiapan mental dan kemampuan menghadapi proses rekrutmen kerja, termasuk cara melamar pekerjaan, sikap saat wawancara, hingga penampilan diri. Menurutnya, lulusan perlu memahami bahwa persaingan kerja menuntut kesiapan yang lebih dari sekadar ijazah.
Selain itu, Ari menyinggung pentingnya personal branding bagi lulusan sebagai bagian dari tanggung jawab menjaga nama baik almamater. Ia menyebut media sosial, termasuk LinkedIn, Instagram, dan TikTok, kini menjadi ruang yang turut membentuk citra diri seseorang.
“Mahasiswa yang akan menjadi wisudawan otomatis menjadi duta almamater. Karena itu, mereka harus bisa menjaga nama baik kampus melalui branding diri yang positif,” ujarnya.
Dalam pesannya kepada para peserta, Ari menekankan setiap individu pada dasarnya adalah CEO bagi dirinya sendiri. Ia mengajak lulusan untuk mampu mengatur waktu, pekerjaan, dan pilihan hidup secara mandiri tanpa terlalu bergantung pada faktor eksternal.
Ia juga menyinggung pentingnya keteguhan sikap dalam menghadapi penolakan dan kegagalan, termasuk saat tidak diterima kerja. Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh membuat lulusan berhenti berusaha.
“Harapannya, mereka bisa menjadi CEO bagi dirinya sendiri. Jangan mudah terpengaruh, tetap fighting. Kegagalan itu hanya bagian kecil, sekitar 10 persen, sementara 90 persen ada pada keputusan dan usaha kita sendiri,” tuturnya.
Ari menambahkan, setelah lulus, para sarjana perlu menentukan arah hidup dengan lebih tegas, apakah akan menjadi wirausaha, karyawan swasta, profesional di BUMN, ASN, atau menempuh jalur lain. Menurutnya, pada fase awal setelah lulus, lulusan sebaiknya tidak terlalu banyak memilih dan lebih terbuka terhadap setiap peluang yang ada.
“Kalau baru lulus, ambil kesempatan yang ada. Setelah itu, ketika sudah masuk tahap lebih matang, barulah bisa lebih selektif memilih jalur karier,” katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya jaringan atau networking dalam membangun masa depan, baik bagi mereka yang meniti karier sebagai profesional maupun yang bergerak di jalur nonformal seperti media, penyiaran, atau kreatif. Menurutnya, jaringan yang baik akan membuka banyak peluang baru di masa mendatang. (Sdq)



