Info IndoInfo IndoInfo Indo
  • Beranda
  • Nasional
  • Kaltara
    • Kota Tarakan
    • Kabupaten Bulungan
    • Kabupaten Nunukan
    • Kabupaten Malinau
    • Kabupaten Tana Tidung
  • Advertorial
  • Hukrim
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
Bacaan : 2 Pandemi Terjadi, Dinkes Ingatkan Adanya Penyakit Yang Tidak Kalah Mematikan
Bagikan
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Info IndoInfo Indo
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
Search
  • Beranda
  • Nasional
  • Kaltara
    • Kota Tarakan
    • Kabupaten Bulungan
    • Kabupaten Nunukan
    • Kabupaten Malinau
    • Kabupaten Tana Tidung
  • Advertorial
  • Hukrim
  • Politik
  • Ekonomi
  • Pendidikan
Ikuti Kami
© 2025 Facesia.com
Info Indo > Prov. Kaltara > 2 Pandemi Terjadi, Dinkes Ingatkan Adanya Penyakit Yang Tidak Kalah Mematikan

2 Pandemi Terjadi, Dinkes Ingatkan Adanya Penyakit Yang Tidak Kalah Mematikan

Redaksi
Redaksi
Published: 13 Februari 2022
Bagikan
3 Minimal Baca
Bagikan

TARAKAN – Sejak pendemi covid-19 melanda sejak tahun 2020 lalu, membuat fokus seluruh masyarakat tertuju pada pandemi yang kemunculannya dinilai cukup mengerikan. Sehingga hal itu membuat sebagian besar masyarakat lalai memperhatikan potensi penyakit lainnya yang dapat mengancam kapan saja.

Saat dikonfirmasi Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan Utami Cahyaningtyas menuturkan sejak pandemi covid-19 pada 2020 lalu fokus masyarakat pada covid cukup besar. Sehingga kondisi tersebut dapat berpotensi membuat masyarakat lalai mencegah penyakit lainnya.

- Advertisement -
Ad imageAd image

“Ada beberapa penyakit seperti Hipertensi, jantung, kanker kemudian Ispa dan DM. Penderita biasnya mengalami ketakutan untuk datang karena berpikir dituduh covid sehingga kalau kami melihat itu faktor dalam 2 tahun terakhir ini,”ujarnya, (13/02/2022).

Ia menerangkan sejak pandemi covid-19 terjadi, membuat pelaporan menjadi terkendala karena enggannya masyarakat datang ke faskes memeriksakan diri. Hal itu tidak terlepas dari phobia masyarakat terhadap covid-19.

“Di tahun ini sebenarnya berangsur mambaik. Tahun lalu, kalau petugas kesehatan datang mereka lebih takut sampai ada warga yang tidak mau buka pintu. Tapi sejak covid-19 ini menurun masyarakat mulai berani untuk diperiksa,”tuturnya.

Ia menyadari pandemi covid-19 menjadi momok menakutkan bagi masyarakat mengingat ketiga penyakit tersebut masih memiliki hubungan dengan covid-19. Namun ia menuturkan setiap penderita yang mengeluhkan keluhan penyakit tersebut belum tentu terdiagnosa covid-19. Bahkan para keluarga Nakes pun juga takut memeriksakan diri di masa pandemi saat ini.

“Tetap 3 penyakit ini menjadi terbesar di Tarakan. Jangan jauh-jauh orangtua saya saja di rumah, bersikeras tidak mau diperiksa. Saya kesulitan membujuk mereka. Orangtua sendiri saja susah dibujuk, apalagi membujuk masyarakat yang kita tidak kenal,”terangnya.

“Memang ketiga penyakit ini juga berhubungan dengan covid-19 tapi belum tentu adanya gejala itu karena covid. Jadi setelah masa pendemi setiap ada gejala masyarakat selalu berpikiran kalau itu covid,”lanjutnya.

Diterangkannya, tingginya kasus ketiga penyakit teratas tersebut disebabkan pengetahuan masyarakat yang kerap menyepelehkan penangganannya. Padahal, jika tidak tertanggani secara rutin maka ketiga penyakit tersebut dapat menjadi pemicu kematian.

“Ada beberapa penyakit misalnya jantung, kanker, Diabetes itu merupakan penyakit turunan. Tapi, jarang terditeksi oleh penderita kalau mereka tidak mau memeriksakan. Kebanyakan gejala hanya dianggap sepeleh sehingga ketika sudah parah baru mau diperiksakan,”tuturnya.

“Sejak dekade terakhir Hipertensi tetap menjadi pembunuh terbesar masyarakat. Alasannya karena sebagian besar masyarakat menyepelekan penyakit ini, kedua sementara hipertensi ini ada yang diharuskan minum obat secara rutin seumur hidup, ketiga hipertensi ini memiliki banyak pantangan makanan yang kita hadapi setiap hari. Itu yang membuat penderita tidak tahan untuk tidak melanggarnya,”ucapnya.

“Penyebab utama ketiga penyakit ini tentu berasal dari yang kita makan sehari-hari. Orang cenderung tidak memperhatikan apa yang ia makan saat usia muda, sehingga di usia 35 ke atas dampak itu sudah terasa. Selain itu ada sering stress dan jarang berolahraga,”pungkasnya.

Anda Mungkin Juga Menyukai

Merasa Terancam, Warga di Tabur Lestari Laporkan Mandor Perusahaan Sawit ke Polisi
Saling Lapor Kasus Penganiayaan, Kapolsek Nunukan : Semua Sama di Mata Hukum
Masa sih, DS Punya Dapur MBG?
BPK Berikan Opini Wajar Tanpa Pengecualian ke-12 Kali untuk LKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2025
Tarif PBJT ditetapkan 10%, Untuk Restoran Penyedia Makanan dan Minuman
Bagikan Artikel ini
Facebook Copy Link Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Hasil Seleksi Jalur Domisili SMPN Tangsel Diumumkan Malam Ini, Pemkot Jamin Transparansi
Pendidikan
26 Juni 2026
Air Bersih untuk Rakyat, Kado Nyata HUT Bhayangkara ke-80 dari Polda Kaltara
Kaltara
25 Juni 2026
ISOG Capai Gas Pertama Lapangan Karamba di Kalimantan Timur, Siap Pasok Kilang Balikpapan
Berita Energi Industri Kaltara
24 Juni 2026
Bandara Juwata Siap Tindak Lanjuti Aspirasi Mahasiswa Perbatasan
Ekonomi
24 Juni 2026

Berita Terhangat

BeritaHukumProv. KaltaraTarakan

Sebut UU Tidak Wajibkan 10%, Akademisi Hukum Desak Peninjauan Kembali Pajak Restoran di Tarakan

1 Juni 2026
Prov. Kaltara

Deddy “Arsenal” Sitorus

31 Mei 2026
BeritaProv. KaltaraTarakan

Momentum Idul Adha, Tani Merdeka Kaltara Bagikan Daging Kurban

30 Mei 2026
BeritaPolriProv. KaltaraTarakan

Polres Tarakan Laksanakan Sertijab Kapolsek KSKP dan Penyerahan Jabatan Kasat Resnarkoba

29 Mei 2026
Sebelumnya Berikutnya
Info IndoInfo Indo
© 2024 - Infoindo.co.id | All Rights Reserved.
  • Instagram
  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Kehilangan Password ?