TARAKAN – Action of Youth for Sustainability (AYS) kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong gerakan inklusi di Kalimantan Utara setelah terpilih sebagai salah satu komunitas berdampak oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Bahkan, AYS menjadi satu-satunya komunitas di Indonesia yang diberikan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan Inclusion Fest secara massal.

Founder AYS, Muhammad Abrar Siregar, menegaskan bahwa pengakuan dari Kemenpora ini menjadi momentum penting untuk memperluas ruang ekspresi bagi penyandang disabilitas.
“Kami bersyukur dari ribuan komunitas seluruh Indonesia, kami terpilih sebagai komunitas berdampak dan menginspirasi. Bahkan satu-satunya yang diberi kepercayaan untuk melaksanakan kegiatan inklusi secara massal,” ujar Abrar pada Minggu (16/11/25).
AYS dalam waktu dekat akan melaksanakan kegiatan inklusi yang lebih besar dengan menghadirkan 350 peserta lebih dari berbagai sektor, termasuk pemerintah provinsi, pemerintah kota hingga lembaga-lembaga pendukung lainnya.
“Kami ingin menunjukkan bahwa bahasa isyarat itu penting. Teman-teman disabilitas harus didampingi agar mereka mandiri,” tegasnya.
Abrar menyebut, kegiatan inklusi ini tidak hanya digerakkan AYS semata. Sebanyak 22 komunitas lain turut diundang untuk menyampaikan program serta rencana kerja mereka. Ia mengakui, upaya ini memerlukan tenaga dan waktu besar, namun kolaborasi menjadi kunci utama.
“Seharusnya beban ini 95 persen di kami, tapi teman-teman komunitas lain hadir, mendukung, menyuarakan, dan punya eksistensi untuk teman-teman disabilitas,” jelasnya.
AYS disebut telah menjalin kerja sama aktif dengan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), termasuk Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tarakan. Rutinitas pendampingan disabilitas juga sudah berjalan hingga ke Tanjung Selor. Bahkan, AYS akan menjadi tuan rumah Hari Disabilitas Internasional yang diselenggarakan Desember mendatang.
Dalam perayaan tersebut, AYS menyiapkan rangkaian acara yang sepenuhnya menonjolkan bakat, minat, dan kreativitas penyandang disabilitas. Termasuk penampilan dalam ajang Indonesia Got Talent AYS, pembacaan doa lima agama, tarian dan nyanyian oleh anggota komunitas disabilitas.
“Panggungnya 100 persen untuk mereka. Di situlah mereka bisa mengekspresikan diri, bahwa mereka ada di antara kita, bukan di samping kita,” ucap Abrar.
Abrar menegaskan bahwa bahasa isyarat adalah “napas” bagi teman-teman tuli, dan menjadi identitas yang harus dimuliakan. Ia berharap penyandang disabilitas tetap optimistis dan memanfaatkan ruang yang telah disediakan pemerintah maupun komunitas.
“Teman-teman harus tetap semangat. Wadah-wadah sudah diciptakan pemerintah provinsi, kota, sampai kabupaten. Kami juga terus mendorong agar teman-teman praktis menyuarakan haknya,” tuturnya.
Abrar juga mengajak seluruh penyandang disabilitas untuk aktif mengikuti kegiatan positif dan mengimplementasikan kemampuan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
“Terus berinovasi dan menjaga kolaborasi. Agar ke depannya kita bisa membuat kegiatan yang lebih besar dari hari ini,” tutupnya. (sdq)




