0TARAKAN – Tak ada yang menyangka, panggilan suci menuju Arafah menjadi perpisahan abadi. Hj. Irama Madduta Binti Madduta, jamaah haji asal Tarakan, meninggal dunia di Makkah pada Senin (25/5/2026) siang, tepat menjelang puncak ibadah haji.
Berita duka itu disampaikan keluarga melalui Hj. Kasma, anak kandung mendiang. Menurutnya, ibunya wafat sekitar pukul 14.00 WITA. Saat itu, Kasma yang merupakan seorang guru sedang berada di sekolah.
“Saya masih di sekolah. Jam 2 pas saya nyampe, nunggu 15 menit untuk cekklok. Tiba-tiba telepon masuk dari keluarga. Ada video call, tapi langsung tertutup. Saya pikir mungkin tanya baju ihram atau persiapan ke Arafah,” cerita Kasma.
Tak lama kemudian, telepon berdering lagi. Kali ini, adiknya yang mendampingi Hj. Irama di Makkah menyampaikan berita duka
“Ibu jatuh di kamar mandi saat mandi ikhram untuk persiapan ke Arafah,” ucap Kasma yang menirukan perkataan adiknya via telfon.
Dalam video call tersebut, Kasma melihat dokter di belakang adiknya. Tak berselang lama, dokter mengonfirmasi, “Yang mana keluarganya? Mama sudah tidak ada,” tutur Kasma.
Adiknya langsung menangis tersedu. Kasma pun mematikan video call, hatinya hancur. “Oh, berarti betul-betul Mama sudah tidak ada,” katanya.
Hj. Irama, yang tercatat berusia 79 tahun di KTP, kendati keluarga memperkirakan mendekati 90 tahun, dikenal sebagai ibu rumah tangga yang kuat. Suaminya, seorang buruh pelabuhan, telah meninggal pada 2013 karena sakit.
Meski kondisinya sempat dikhawatirkan karena riwayat jantung yang ditemukan saat pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan, Hj. Irama bersikeras melanjutkan ibadah. “Saya bilang, Bismillah aja, semoga dimudahkan,” kenang Kasma.
Ia bahkan menolak kursi roda meski keluarga sudah meminta pendamping untuk menyediakannya. “Dia merasa kuat. Kalau jalan dekat-dekat masih bisa,” tambahnya.
Malam sebelum wafat, Hj. Irama masih sempat mengobrol dengan anaknya. Tak ada tanda-tanda buruk. Keesokan harinya, saat mempersiapkan diri untuk berangkat ke Arafah, musibah itu terjadi di kamar mandi penginapan.
Jenazah Hj. Irama dimandikan, dishalatkan di Masjidil Haram, dan dimakamkan di pemakaman Blok 14 Makkah pada Senin malam waktu setempat, selisih sekitar lima jam dengan waktu Indonesia Tengah.
Adiknya yang mendampingi tak bisa ikut ke Arafah karena tak tega meninggalkan ibunya sendirian di kamar.
“Habis maghrib, adik chat, ‘Loh kok enggak jadi?’ Saya jawab, enggak sanggup tinggalkan Mama,” tutur Kasma.
Di Tarakan, keluarga besar langsung berkumpul. Mereka menggelar tahlilan, khataman Al-Quran, dan Yasinan. Tradisi Sulawesi yang kental dengan kehangatan keluarga itu menjadi penawar duka.
“Di mulut saya bilang ikhlas, tapi hati ini berat. Berat betul, karena saya tidak sempat melihat. Yang namanya ajal, kita tidak pernah tahu,” ungkap Kasma sambil menahan haru.
Hj. Irama mendaftar haji pada 2020. Karena faktor usia lanjut dan pandemi COVID-19, ia baru berangkat setelah enam tahun menunggu. Kebijakan khusus lansia memungkinkannya didampingi anaknya yang juga sudah mendaftar lebih dari tiga tahun.
Bagi keluarga, keberangkatan ini penuh harap. Hj. Irama dikenal sebagai sosok yang sabar, merawat anak-anaknya termasuk tiga anak tirinya sejak kecil. Kini, meski jasadnya telah dimakamkan di Tanah Suci, keluarga yakin ibunda mereka telah menyelesaikan panggilan suci.
“Insya Allah Mama sudah haji. Nanti kalau umrah, kami bisa ziarah ke makamnya di Blok 14,” kata Kasma. (*)
Reporter : Arif Rusman

