BERAU – Sebuah gerakan pengabdian masyarakat berbasis pemuda bertajuk Kaltimtara Beraksi #2akan digelar pada awal April 2026 di wilayah kampung nelayan dan pulau terluar. Kegiatan yang diprakarsai oleh organisasi pemuda yaitu AYS (Action of Youth for Sustainability) Indonesia, kegiatan ini melibatkan puluhan relawan lintas daerah dengan tujuan mendorong solusi nyata untuk isu pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, pariwisata, lingkungan, mitigasi bencana, serta sosial budaya masyarakat.
Program ini dirancang sebagai platform pengabdian berbasis dampak dengan pendekatan holistik yang terbagi dalam empat divisi utama, yaitu pendidikan dan kesehatan, ekonomi kreatif dan pariwisata, lingkungan dan mitigasi bencana, serta sosial masyarakat dan kebudayaan. Masing-masing divisi akan menjalankan aktivitas edukasi, kampanye sosial, penguatan kapasitas masyarakat, dan inovasi berbasis komunitas untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di daerah sasaran.
Menurut Muhammad Abrar Putra Siregar, Founder AYS Indonesia, keterlibatan pemuda menunjukkan peran generasi muda bukan sekadar penerima manfaat tetapi sebagai pelaku perubahan.
“Pengabdian yang kami lakukan di kampung nelayan dan pulau ini menjadi bukti nyata bahwa anak muda bukan hanya objek pembangunan, tetapi aktor utama perubahan. Kaltimtara Beraksi #2 dirancang sebagai gerakan kolaboratif pemuda lintas daerah yang menghadirkan solusi nyata pada isu pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, pariwisata, lingkungan, mitigasi bencana, serta sosial budaya masyarakat,” kata Abrar.
Abrar menambahkan bahwa keterlibatan puluhan relawan dari berbagai daerah memperlihatkan semangat kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan dampak sosial yang terukur dan berkelanjutan. Setiap divisi dirancang untuk menghasilkan kegiatan yang memiliki legacy jangka panjang, misalnya modul pelatihan yang dapat digunakan masyarakat setempat, program pemberdayaan ekonomi mikro, serta kampanye mitigasi risiko yang disesuaikan kondisi lokal.
Penyelenggara menargetkan agar Kaltimtara Beraksi menjadi model gerakan kepemudaan berbasis dampak yang dapat direplikasi di wilayah lain. Untuk itu, penyelenggara membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan komunitas lokal agar program tidak bersifat seremonial, melainkan menciptakan warisan (legacy) yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir dan pulau terluar.
Organisasi penyelenggara juga menyatakan komitmennya untuk mengaitkan hasil kegiatan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), melalui pendekatan inklusif, kolaboratif, dan berbasis bukti. (*)




