TARAKAN – Puluhan massa yang tergabung dalam Free Palestine Network (FPN) Kota Tarakan menggelar aksi damai di Simpang Empat Lampu Merah Tarakan Mall pada Jumat terakhir Ramadan 2026. Aksi rutin tahunan ini dilakukan sebagai bentuk peringatan Hari Al-Quds Internasional sekaligus menyuarakan dukungan terhadap pembebasan Palestina dari pendudukan Israel.
Koordinator FPN Kota Tarakan, Rusdi, menyatakan bahwa momentum tahun ini membawa harapan besar bagi kemerdekaan Palestina. Menurutnya, perkembangan isu global saat ini menunjukkan tanda-tanda positif, di mana lebih dari 110 negara anggota PBB telah memberikan pengakuan kedaulatan kepada Palestina.
“Harapan kami, Al-Quds tahun ini adalah yang terakhir dalam memperjuangkan kemerdekaan, karena momennya sudah di tahun ini. Kita melihat penarikan pasukan Israel dari Gaza menjadi langkah krusial bahwa penguasaan wilayah tersebut sudah tidak ada lagi,” ujar Rusdi saat diwawancarai usai aksi.
Rusdi menekankan bahwa keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda dalam aksi ini, bukan sekadar ikut-ikutan atau fenomena FOMO (Fear of Missing Out), melainkan sebuah upaya membangun kesadaran kolektif untuk membela kaum tertindas dan menyuarakan isu kemanusiaan.
Baca juga : https://infoindo.co.id/soal-program-nuklir-iran-china-rusia-bentrok-dengan-as-di-dewan-keamanan-pbb/
Selain isu kemerdekaan Palestina, Rusdi juga menyoroti kebijakan politik luar negeri Pemerintah Indonesia, khususnya terkait keterlibatan dalam kesepakatan Board of Peace (BoP). Ia menilai langkah Presiden dalam mengambil keputusan tersebut cenderung blunder dan tidak populer di mata masyarakat.
“BOP ini dibentuk oleh sekelompok negara di luar sistem PBB, yang bisa dikatakan ilegal. Kami menyayangkan mengapa Indonesia tidak memiliki posisi tawar (standing position) yang kuat dan justru terlibat di dalamnya tanpa melibatkan tim ahli hukum atau politik luar negeri secara komprehensif,” tegasnya.
Ia juga menilai langkah tersebut bertolak belakang dengan semangat konstitusi Indonesia yang menentang segala bentuk penjajahan. Rusdi membandingkan langkah pemerintah saat ini dengan ketegasan diplomasi sebelumnya yang berani berhadapan langsung dengan kepentingan sekutu Israel di forum PBB.
Dukungan Terhadap Sikap Tegas Iran
Terkait posisi internasional, Rusdi memberikan apresiasi terhadap sikap politik Iran yang dinilainya konsisten dan tidak “abu-abu” dalam membela Palestina. Ia berpendapat bahwa dalam isu kemanusiaan dan penindasan, sebuah negara tidak seharusnya bersikap netral.
“Netral itu berarti bebas nilai. Di saat terjadi kezaliman, bersikap netral adalah hal yang naif. Iran memilih untuk tidak lagi bernegosiasi setelah berkali-kali dikhianati dalam kesepakatan internasional, mereka memilih untuk melawan. Kita sebagai negara Muslim terbesar seharusnya berani mengambil sikap tegas dan tidak takut terhadap konsekuensi dari pilihan membela keadilan,” tambah Rusdi.
Aksi damai yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan harapan agar keterlibatan kecil dari masyarakat di daerah seperti Tarakan dapat memberikan kontribusi moral bagi perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina di kancah dunia. (dd/red)

