TARAKAN – Ketua Komisi III DPRD Kota Tarakan, Randy Ramadhana, menggelar kegiatan reses Masa Persidangan I Tahun 2025–2026 di wilayah Dapil I Tarakan Tengah pada Senin (17/11/25). Dalam agenda tersebut, ia menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan aspirasi warga meski Kota Tarakan tengah menghadapi potensi pemotongan anggaran pada tahun 2026.
Randy menyampaikan seluruh aspirasi yang diterima melalui berbagai kanal, baik reses, pertemuan langsung, telepon maupun pesan WhatsApp, telah dicatat dan menjadi perhatian prioritasnya.
“Program mentalisasi dan aspirasi Bapak-Ibu, insyaallah kalau memang bisa saya perjuangkan, pasti saya perjuangkan. Semua aspirasi yang masuk selalu saya catat,” ujar Randy.
Randy mengungkapkan bahwa rencana kebijakan pemotongan anggaran pemerintah pusat berdampak signifikan bagi daerah, termasuk Tarakan. Jika pemotongan terealisasi, APBD Tarakan diperkirakan turun dari Rp1,1 triliun menjadi sekitar Rp800 miliar.
“APBD kita tahun 2026 bisa tersisa Rp800 miliar, sementara belanja pegawai saja sudah Rp500 miliar. Dampaknya pasti ke pembangunan,” jelasnya.
Karena itu, ia meminta masyarakat memahami bahwa sejumlah program pembangunan mungkin tidak bisa terealisasi secara maksimal.
Menanggapi keluhan warga terkait banjir di RT 20 Kampung 1, Randy memastikan usulan pekerjaan infrastruktur telah direncanakan masuk pada tahun 2026. Namun ia menegaskan pentingnya peran aktif warga melalui kerja bakti.
“Sering banjir karena paretnya tertutup pasir. Saya tanya, kerja baktinya ada? Jarang. Jadi pemerintah berupaya, tapi masyarakat juga harus menjadi ujung tombak menjaga lingkungan,” katanya.
Randy juga mengingatkan bahwa pembangunan dapat diusulkan melalui dua jalur Pokok Pikiran (pokir) anggota dewan dan melalui mekanisme Musrenbang dari tingkat RT hingga kecamatan.
Menanggapi keluhan soal keterlambatan pengangkutan sampah di Kelurahan Sebengkok, Randy berjanji akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kelurahan, dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang bertugas mengelola sampah di wilayah tersebut.
“Kita cari tahu dulu akar masalahnya di hulunya. Saya akan komunikasikan dengan DLH dan kelurahan agar ada solusi,” tegasnya.
Di bidang sosial, Randy menanggapi aspirasi mengenai perlunya perlengkapan seperti kursi hajatan dan program lainnya. Ia menyebut kursi bantuan sebelumnya tidak diperbolehkan, namun berhasil ia perjuangkan karena dinilai sangat dibutuhkan masyarakat saat hajatan atau musibah.
Terkait usulan pengadaan ambulans di tiap kelurahan, Randy menyebut hal tersebut harus dibahas bersama seluruh anggota DPRD.
“Kalau saya sendiri setuju, tapi keputusan bukan hanya saya. Minimal satu kelurahan satu mobil, tapi operasionalnya juga harus siap,” ungkapnya.
Randy juga menyoroti persoalan lingkungan yang melibatkan Pertamina. Ia menyatakan akan menghubungi pihak perusahaan serta turun langsung apabila diperlukan.
“Ini bukan soal bantuan, tapi pencegahan bencana. Ingatkan saya terus sampai pohon itu ditebang,” tegas Randy.
Dalam reses tersebut, Randy menekankan bahwa pertemuan dengan masyarakat adalah ruang refleksi bagi dirinya sebagai wakil rakyat.
“Kalau saya salah, kalau saya lalai, tegur saja. Saya ini cuma manusia biasa. Ini momen refleksi buat saya,” ujarnya.
Ia menutup kegiatan reses dengan ucapan terima kasih serta doa bagi kesehatan seluruh warga yang hadir.
“Semoga kehadiran saya sebagai anggota dewan membawa manfaat bagi Bapak-Ibu sekalian. Terima kasih atas semua masukan dan nasihat,” tutupnya. (sdq)




