TARAKAN – Harapan masyarakat Kalimantan Utara, khususnya Kabupaten Nunukan sedikit mendapatkan kepastian distribusi pasokan bahan bakar minyak (BBM). Kendati masih mengalami keterlambatan pasokan, Anggota DPRD Kalimantan Utara, Rismanto,ST,.MT,.MPSDA tetap berharap agar Pertamina dapat memperhatikan pengiriman BBM yang lebih cepat agar tidak terjadi keterlambatan pasokan.
“Pertamina ini nyawa bagi roda penggerak ekonomi. Keberadaan BBM sangat di butuhkan. 10 kali pengiriman berhasil. Tapi apabila ada 1 kali yang mengalami keterlambatan, masyarakat akan teriak karena semua aktivitasnya terhenti. Jadi tolong terkait dengan kuota atau keterlambatan order atau pengirimanan ke masyarakat kami di Nunukan supaya lebih diperhatikan,” ungkapnya.
Menanggapi hal itu, Sales Branch Manager Kaltimut V Fuel Pertamina, Muhammad Naufal Atiya, memberikan penjelasan mendalam terkait dinamika pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Kabupaten Nunukan yang menjadi perhatian legislatif.
Ia menegaskan bahwa secara prinsip, kondisi stok BBM di wilayah tersebut dalam keadaan yang cukup dan stabil untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat. Pertamina terus melakukan pemantauan ketat terhadap alur distribusi guna memastikan tidak ada kendala berarti yang dapat menghambat ketersediaan energi di wilayah perbatasan tersebut dalam jangka panjang.
Baca juga : https://infoindo.co.id/keluhkan-operasional-spbu-di-nunukan-rismanto-lebih-banyak-libur-daripada-beroperasi/
“Terkait dengan kondisi stok di Nunukan, dapat kami sampaikan bahwa saat ini posisinya dalam kondisi aman dan mencukupi untuk melayani kebutuhan masyarakat sehari-hari di sana,” ujar Naufal.
Mengenai adanya persepsi kelangkaan atau keterlambatan, Naufal menjelaskan bahwa operasional SPBU sangat bergantung pada jadwal kedatangan sarana angkut yang menempuh perjalanan cukup menantang. Faktor cuaca dan kondisi perairan seringkali menjadi variabel yang memengaruhi ketepatan waktu sandar kapal pengangkut BBM ke terminal penampung sebelum didistribusikan ke SPBU.
Pihaknya terus berupaya melakukan sinkronisasi jadwal agar kekosongan stok di tingkat pengecer resmi dapat diminimalisir sekecil mungkin melalui koordinasi yang lebih intensif dengan tim logistik.
“Memang ada faktor eksternal seperti kondisi alam dan jadwal kapal yang terkadang memengaruhi waktu distribusi, namun kami terus berupaya menjaga agar suplai ke SPBU tetap berjalan sesuai jadwal yang direncanakan,” jelasnya.
Terkait keberadaan Bio Solar, Pertamina memastikan bahwa jenis bahan bakar ini telah tersedia di wilayah Nunukan untuk mendukung sektor transportasi dan ekonomi produktif masyarakat. Naufal memaparkan bahwa distribusi Bio Solar dilakukan secara merata ke SPBU yang memiliki izin dan fasilitas penampungan yang memadai sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Pengawasan terhadap penyaluran BBM bersubsidi ini juga diperketat agar tepat sasaran dan tidak terjadi penyalahgunaan yang dapat merugikan masyarakat luas yang lebih membutuhkan.
“Untuk Bio Solar sendiri sebenarnya sudah masuk dan tersedia di SPBU yang ada di Nunukan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan jenis bahan bakar tersebut,” tambahnya.
Sebagai langkah perbaikan pelayanan di masa depan, Pertamina berencana untuk memperkuat infrastruktur penampungan dan menambah kapasitas distribusi guna mengantisipasi lonjakan permintaan di masa mendatang. Naufal menekankan pentingnya sinergi antara Pertamina, pemerintah daerah, dan aparat penegak hukum dalam mengawasi jalannya distribusi dari hulu hingga ke hilir.
Penataan jam operasional SPBU juga menjadi agenda evaluasi internal agar masyarakat memiliki akses yang lebih luas dan pasti untuk mendapatkan BBM pada jam-jam sibuk maupun di tengah pekan.
“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan dan melakukan evaluasi terhadap mitra SPBU kami agar distribusi BBM ke depan semakin lancar dan tepat waktu,” pungkasnya. (Sha)



