TARAKAN – Polres Tarakan menggelar Operasi Kepolisian Terpusat Ketupat Kayan 2026 selama 13 hari penuh, mulai 13 hingga 25 Maret 2026. Sebanyak 165 personel dikerahkan ke berbagai titik strategis untuk memastikan arus mudik dan balik Lebaran berjalan aman, tertib, dan lancar.
Menurut rilis resmi Humas Polres Tarakan, operasi ini berhasil menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) secara umum kondusif. Meski demikian, ada catatan menarik dari sisi pergerakan penumpang hingga penanganan bencana.
Data pemantauan transportasi menunjukkan dinamika yang cukup signifikan. Pelabuhan Malundung mencatat kenaikan paling spektakuler. Penumpang keberangkatan melonjak hingga 259,9% dibanding 2025 (dari 2.325 menjadi 8.367 orang).
Penumpang datang juga naik 31,6% (dari 1.967 menjadi 2.590 orang). Armada berangkat dan datang ikut bertambah menjadi 17 unit.
Pelabuhan Ferry turut ramai. Penumpang berangkat naik 95,6% (dari 701 menjadi 1.371 orang), sementara penumpang datang meningkat 67,5% (dari 588 menjadi 985 orang).
Pelabuhan Tengkayu I (SDF) justru mengalami penurunan konsisten baik penumpang berangkat maupun datang.
Bandar Udara mencapai puncak di 2025, lalu sedikit melandai di 2026 dengan penurunan penumpang berangkat sekitar 9,4%.
Tren ini menunjukkan masyarakat Tarakan dan sekitarnya semakin memilih jalur laut untuk mudik-balik Lebaran tahun ini.
Secara keseluruhan, jumlah gangguan Kamtibmas turun dibanding 2024 (dari 10 menjadi 9 kasus di 2026). Beberapa jenis kejahatan berhasil ditekan diantaranya Penganiayaan, narkotika, pencurian, dan pemerkosaan mengalami penurunan.
Namun, ada kenaikan pada penganiayaan berat (3 kasus), penipuan (1 kasus), dan kekerasan dalam rumah tangga/KDRT (1 kasus).
Polres Tarakan mencatat situasi Kamtibmas secara umum tetap aman dan kondusif selama operasi.
Prestasi paling menggembirakan datang dari sektor lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) hanya tercatat 1 kasus di 2026, jauh turun dari 4 kasus pada 2024 dan 2025. Tidak ada korban meninggal dunia. Korban luka ringan hanya 1 orang, dan kerugian material Rp 1,5 juta.
Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi dua kali di akhir operasi. Pertama pada 22 Maret 2026 pukul 13.00 Wita di belakang SMP N 10 Tarakan dengan luas ±4.000 m².
Kemudian pada 25 Maret 2026 pukul 16.00 Wita di Rt.09 Kelurahan Kampung Skip dengan luas ±3 hektare. Kedua insiden berhasil dipadamkan dengan cepat berkat koordinasi aparat gabungan. Tidak ada bencana alam lainnya yang dilaporkan.
Data resmi melalui Humas Polres menyatakan bahwa Operasi Ketupat Kayan 2026 berhasil mencapai tujuannya. Seluruh rangkaian kegiatan masyarakat menjelang, saat, dan pasca-Lebaran berjalan lancar.
“Polres Tarakan akan terus melakukan evaluasi menyeluruh guna meningkatkan pelayanan dan efektivitas pengamanan di masa mendatang,” tulis rilis resmi tersebut. (*)
Reporter : Arif Rusman



