TARAKAN – Dalam agenda “SOBAT BEKANTAN: REHABILITASI EKOSISTEM MANGROVE SEBAGAI HABITAT SATWA ENDEMIK PESISIR TARAKAN” yang digelar pada Sabtu (10/1/26), para pelaku konservasi dan komunitas lokal bergandengan tangan mendorong upaya pemulihan habitat mangrove sebagai langkah menyelamatkan bekantan, salah satu primata endemik Kalimantan yang populasinya kini terancam.
Muhammad Abrar Putra Siregar, Founder AYS Indonesia, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kolaborasi antara AYS Indonesia dan kelompok Antara Lestari Kelurahan Kampung 4 untuk memperkuat fungsi kawasan konservasi sebagai tempat hidup dan penelitian bekantan.
“Bekantan ini merupakan salah satu hewan endemik Kalimantan yang statusnya hampir krisis. Kami melihat potensi besar di kawasan konservasi habitat yang terawat dan terjaga dapat menjadi wadah penelitian sekaligus pembelajaran tentang karakter bekantan,” ujar Abrar.
Abrar juga menyampaikan harapannya agar program penanaman habitat, khususnya mangrove di pesisir Pulau Tarakan, dapat menumbuhkan kembali populasi bekantan. Selain mangrove, pemulihan ekosistem dipandang akan berdampak positif pada biota lain seperti kepiting dan ikan. Ia mengajak generasi muda Tarakan untuk aktif merawat dan melestarikan lingkungan.
“Langkah-langkah kecil untuk kegiatan konservasi dan penanggulangan kerusakan lingkungan adalah perkara mulia jaga spirit ini, karena dari hal kecil bisa berdampak besar,” bebernya.
Sementara itu, Sugeng Widarno, Ketua Antara Lestari Kaltara, memaparkan metode rehabilitasi mangrove yang selama ini efektif diterapkan di wilayah pesisir. Menurut Sugeng, pilihan metode harus disesuaikan kondisi lokasi dan jenis substrat tanah.
“Untuk penanaman di pesisir dengan gelombang cukup besar, metode rumpun berjarak dinilai lebih efektif. Sedangkan untuk daerah bukan pesisir, metode intensif (misalnya 1×1 atau 2×1) dapat diterapkan,” jelasnya.
Sugeng memberi contoh jenis tanaman yang cocok untuk berbagai kondisi pantai. Di kawasan berpasir seperti Pantai Amal, jenis api-api lebih adaptif dibandingkan bakau yang tumbuh lebih baik di substrat lumpur yang cenderung lebih ke darat. Ia menekankan perlunya menyesuaikan jenis mangrove dengan kondisi tanah agar rehabilitasi berhasil.
Keduanya sepakat bahwa pembinaan dan keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan program. Sugeng menilai kegiatan ini penting untuk mengalihkan perhatian anak muda yang kini banyak terserap oleh dunia digital, menuju aktivitas produktif yang mencintai alam.
Agenda yang diadakan Komunitas AYS Indonesia tidak hanya berisi penanaman mangrove, tetapi juga sosialisasi pentingnya konservasi satwa endemik, pelibatan komunitas, serta potensi kawasan konservasi sebagai pusat studi dan ekowisata yang berkelanjutan. Penyelenggara berharap kegiatan ini menjadi langkah awal yang menginspirasi replikasi program serupa di wilayah lain di Kalimantan. (Sdq)




