SUARA gamelan dan gambus bergema pelan, seolah memanggil roh-roh leluhur dari riuhnya deru ombak Kawasan Wisata Ratu Intan Pantai Amal. Ratusan pasang kaki bergerak serempak, membentuk pola-pola yang seperti ombak tenang, tapi penuh rahasia. Ini bukanlah sekadar tarian, ini adalah ritual hidup, di mana mitos kuno Suku Tidung bangkit kembali melalui gerak tubuh 157 pemuda dan pemudi Tarakan.
Puncak perayaan Iraw Tengkayu XIV tahun ini, yang jatuh di beberapa bulan lalu (12/10/2025), bukan hanya pesta budaya. Ia adalah jembatan antar zaman, menghubungkan debu-debu sejarah dengan denyut nadi generasi muda.
Bayangkan, ratusan penari membuka lautan gerak dengan Tari Majun, di mana setiap langkah seperti menyeruput minuman jahe hangat (Majun) yang dulu diminum nenek moyang Tidung untuk menahan dingin malam di hutan belantara. “Majun itu bukan cuma nama,” cerita Datu Norbek, budayawan Suku Tidung yang wajahnya penuh garis-garis pengalaman.
Peluh letih wajahnya usai mengikuti rangkaian puncak perayaan pesta suku Tidung pada Iraw Tengkayu, ia berujar “Itu simbol kehangatan yang lahir dari alam. Gerakan Tari Majun ini mengajak kita merasakan bagaimana manusia dulu bergantung pada sungai, pohon, dan angin. Bukan memerintah, tapi berbisik bersamanya.”
Datu Norbek, dengan suara yang lembut tapi tegas seperti irama kinsat, adalah penjaga cerita yang tak pernah pudar. Ia yang merangkai tiga tarian ini menjadi satu kanvas kolosal, menarik benang merah dari joget Melayu Tidung, kesenian Jepin, hingga mitos pra-Islam yang masih bergaung di dongeng-dongeng malam. Bagian kedua, Tari Dindang Gambus, datang seperti angin sepoi dari pesisir.
32 penari putra-putri bergerak dengan irama gambus yang renyah, alat musik berdawai yang dulu menemani obrolan para pelaut di dermaga. “Ini tentang kita dengan sesama,” kata Datu Norbek, matanya berbinar saat menggambarkan bagaimana gerakan saling sentuh dan lepas itu mencerminkan ikatan komunal. Seperti jaring ikan yang saling menguatkan di tengah badai.
Tapi yang paling membuat bulu kuduk merinding adalah penutupnya, Tari Sarung Kuku. Hanya 17 penari, tapi mereka membawa beban berabad-abad. Terinspirasi dari mitologi kuno, di mana dewa-dewa mistis berjalan dengan kuku bersarung emas simbol kekuatan tak terlihat yang melindungi dari dunia gaib. “Zaman dulu, sebelum masjid-masjid berdiri, orang Tidung percaya pada roh-roh ini,” bisik Datu Norbek, seolah takut membangunkan yang tertidur.
“Sarung Kuku bukan monster. Ia adalah pengingat bahwa keyakinan kita pada Yang Maha Kuasa lahir dari rasa takut dan kagum pada yang tak kasat mata. Gerakannya lambat, tapi dalam, seperti doa yang tak terucap,” imbuh datu norbek.
Filosofi ketiga tarian ini, yang dirangkum Datu Norbek, seperti pohon beringin yang akarnya menjalar ke tiga arah. Manusia dengan alam, dengan saudara seayah, dan dengan Tuhan. “Ini bukan tari untuk dilihat saja,” tegasnya.
“Ini untuk dirasakan. Setiap gerak mengajak penonton ikut berpikir. di mana posisi kita di tengah dunia yang semakin cepat ini?” tukas Datu Norbek. Dan memang, saat penampilan berlangsung di lapangan terbuka Pantai Ratu Intan, udara terasa lebih tebal. Kostum sutra berwarna merah darah dan hijau daun, dicampur dengan aksesori berbahan asli dari alam, membuat panggung seperti hutan hidup.
Musiknya? Aransemen ulang lagu-lagu lama. Majun untuk pembuka yang hangat, Dindang Gambus yang ritmis, dan Sarung Kuku yang mistis. Digarap oleh Sanggar Budaya Tradisional Paguntaka, kelompok yang anggotanya campur aduk. Pelajar SMA Tarakan yang masih belepotan jerawat, mahasiswa yang sibuk kuliah online, hingga pekerja kantor yang curi-curi waktu latihan.
Persiapannya tak main-main. Dua bulan penuh keringat, dengan istirahat seminggu di tengahnya, di sebuah sanggar tua yang bau kayu basah. “Konsep dasar sama setiap tahun, tapi detailnya berubah. Seperti alam yang tak pernah diam,” kata Datu Norbek, saat mengenang bagaimana koreografi baru ini menambahkan elemen improvisasi gerakan.
Iraw Tengkayu sendiri, perayaan tahunan yang lahir dari tradisi panen dan syukur Suku Tidung, tahun ini terasa lebih dalam. Di tengah hiruk-pikuk Tarakan yang kini penuh mal dan kafe modern, acara ini seperti napas panjang yang mengembalikan ritme. Penonton berdesak-desakan. Ibu-ibu dengan bayi di gendong, turis dari Malaysia yang foto-foto nonstop, dan anak muda yang scrolling TikTok sambil tepuk tangan. Di kota besar, budaya cuma di museum. Di sini, ia bernyanyi setiap hari.
Tari Kolosal Iraw Tengkayu XIV meninggalkan jejak yang tak mudah hilang. Bukan hanya hiburan semata, tapi refleksi bahwa di balik gemerlap modernitas, ada irama kuno yang menunggu untuk disentuh. Datu Norbek, yang kini berdiri di belakang panggung sambil memandang para penari yang berpelukan, tersenyum tipis. “Mereka yang menari hari ini, besok akan ceritakan kisah ini ke anak cucu. Dan begitulah, Tidung tetap hidup, bukan di buku, tapi di darah dan keringat,” katanya sambil tersenyum.
Bagi kota Tarakan yang acap dihembus angin laut, perayaan ini bukan akhir, melainkan undangan. Untuk kembali ke akar, untuk menari lagi dengan roh-roh yang tak pernah benar-benar pergi. (*)
Penulis: Arif Rusman




