TARAKAN – Action of Youth for Sustainability (AYS) Indonesia akan menyelenggarakan Inklusi Fest 2025, sebuah festival inklusi yang dirancang sebagai ruang pertemuan, pembelajaran, dan advokasi untuk mempercepat aksesibilitas layanan publik bagi penyandang disabilitas. Dengan mengundang Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Utara sebagai mitra pelaksana dan mitra kebijakan, Inklusi Fest bertujuan menyatukan komunitas, lembaga pemerintahan, organisasi penyandang disabilitas, dan pelaku layanan publik dalam satu platform aksi nyata.
Kegiatan ini mengusung format terpadu yang menggabungkan pameran inovasi aksesibilitas, lokakarya juru bahasa isyarat (JBI), panel diskusi kebijakan, simulasi layanan publik inklusif (puskesmas, sekolah, kantor pemerintahan), serta bazar kerja dan inkubasi usaha mikro berbasis inklusi. Selain pelatihan teknis, Inklusi Fest juga menyediakan ruang dialog langsung antara penyandang disabilitas dan pembuat kebijakan untuk memastikan suara mereka terwakili dalam perumusan program dan alokasi anggaran.
Muhammad Abrar Siregar, Founder AYS, menegaskan latar belakang inisiatif program ini lahir, dari pengalaman panjang di lapangan di mana hambatan komunikasi menjadi penghalang utama partisipasi sosial. Menurut Abrar, Inklusi Fest bukan sekadar acara simbolis, melainkan langkah operasional untuk membangun kapasitas dan jejaring. Serta menekankan bahwa kemampuan berkomunikasi adalah pintu utama menuju layanan yang setara.
“Bahasa isyarat adalah nafas mereka,” ungkapnya.
Abrar juga mengingatkan realitas lapangan yang menguatkan urgensi festival ini. Sebuah gambaran yang memotivasi program pelatihan berkelanjutan dan pembentukan jaringan antar-komunitas.
“Tarakan saja hampir seribu (penyandang disabilitas), tapi JBI-nya sendiri bisa dihitung tidak sampai 10 jari,” ujarnya.
Kepala Dinas Sosial, Obed Daniel, sebagai partner kebijakan dalam Inklusi Fest, membawa perspektif pemerintah daerah dan rencana tindak lanjut yang bersifat struktural. Ia melanjutkan perlunya pelatihan bersertifikat dan mekanisme penempatan JBI dalam layanan publik. Ia juga mendorong semangat berkelanjutan bagi peserta
“Tuli ataupun Tunarungu di Indonesia ada 1,9 juta, hampir 2 juta, tetapi JBI yang terdata hanya 500 orang,” kata Obed.
“Terus belajar, belajar dan terus belajar, tidak ada kata menyerah dalam belajar,” lanjutnya.
Inklusi Fest juga mengundang organisasi penyandang disabilitas nasional dan lokal seperti PPDI dan Gerkatin serta perguruan tinggi, fasilitas kesehatan, pelaku usaha, dan media. Festival dirancang untuk menjadi momentum aksi: bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi juga penandatanganan komitmen kemitraan, pemetaan kebutuhan JBI per kabupaten/kota, serta pembukaan jalur kerja bagi lulusan pelatihan.
Hasil yang diharapkan dari Inklusi Fest 2025 antara lain bertambahnya jumlah calon JBI terlatih, terbentuknya mekanisme rujukan antara komunitas dan layanan publik, serta rekomendasi kebijakan yang dapat diusulkan oleh Dinas Sosial Kaltara ke DPRD dan pemangku anggaran provinsi. Dengan kolaborasi yang jelas antara AYS dan Dinas Sosial, Inklusi Fest diharapkan menjadi model replikasi untuk kabupaten/kota lain di wilayah Indonesia timur dan nasional. (sdq)




