TANJUNG SELOR – Perekonomian Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) sepanjang 2025 tumbuh 4,56% secara tahunan (c-to-c), ditopang oleh ekspansi sektor konstruksi, perdagangan, serta peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi. Capaian tersebut mencerminkan pergeseran sumber pertumbuhan di tengah kontraksi sektor pertambangan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp 156,03 triliun. Sementara itu, PDRB per kapita tercatat sebesar Rp 208,21 juta, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara triwulanan, ekonomi Kaltara pada Triwulan IV-2025 tumbuh 5,49% secara tahunan (year-on-year) dan 3,84% dibandingkan triwulan sebelumnya (quarter-to-quarter). Kinerja akhir tahun ini menunjukkan adanya akselerasi pertumbuhan, terutama didorong oleh belanja pemerintah dan penyelesaian sejumlah proyek konstruksi.
Dari sisi lapangan usaha, sektor konstruksi mencatat pertumbuhan tertinggi sepanjang 2025 sebesar 11,17%. Disusul sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 9,99% serta perdagangan besar dan eceran sebesar 9,84%. Industri pengolahan juga tumbuh kuat sebesar 8,99%.
Sebaliknya, sektor pertambangan dan penggalian yang masih menjadi kontributor terbesar terhadap struktur ekonomi Kaltara dengan porsi 26,84%, justru mengalami kontraksi sebesar 1,09% pada 2025. Administrasi pemerintahan juga tercatat stagnan dengan pertumbuhan negatif tipis.
Struktur PDRB Kaltara masih didominasi lima sektor utama, yakni pertambangan (26,84%), pertanian (14,87%), perdagangan (13,73%), konstruksi (13,70%), dan industri pengolahan (8,75%). Kelima sektor tersebut menyumbang hampir 78% terhadap total perekonomian daerah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun sektor tambang masih dominan, sumber pertumbuhan ekonomi mulai bergeser ke sektor non-ekstraktif, terutama konstruksi dan perdagangan.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi 2025 terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,74% dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi sebesar 4,47%. Ekspor barang dan jasa tumbuh 2,98%.
Namun, konsumsi pemerintah sepanjang 2025 terkontraksi 3,79%, mencerminkan moderasi belanja publik secara tahunan. Meski demikian, pada Triwulan IV-2025, konsumsi pemerintah melonjak 26,06% secara qoq, mengindikasikan percepatan realisasi anggaran menjelang akhir tahun.
Struktur pengeluaran menunjukkan karakter ekonomi Kaltara yang sangat berbasis ekspor. Komponen ekspor berkontribusi lebih dari 100% terhadap PDRB, dengan impor sebagai faktor pengurang mencapai 53,37%.
Ketergantungan pada ekspor komoditas ini menjadikan kinerja ekonomi daerah sensitif terhadap dinamika harga global.
Secara regional, Kaltara menyumbang 8,13% terhadap total perekonomian Pulau Kalimantan pada 2025. Pertumbuhan ekonomi Kaltara sebesar 4,56% relatif sejalan dengan rata-rata pertumbuhan Pulau Kalimantan sebesar 4,79%.
Di antara provinsi se-Kalimantan, Kalimantan Barat mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 5,39%, diikuti Kalimantan Selatan 5,22%, Kalimantan Tengah 4,80%, dan Kalimantan Timur 4,53%.
Kinerja 2025 memperlihatkan dua kecenderungan utama. Pertama, ekonomi Kaltara tetap solid meskipun sektor pertambangan melemah. Kedua, peran konstruksi dan investasi semakin signifikan sebagai penggerak baru pertumbuhan.
Ke depan, tantangan utama adalah memperkuat diversifikasi ekonomi agar tidak terlalu bergantung pada sektor tambang dan ekspor komoditas. Penguatan industri pengolahan, hilirisasi, serta peningkatan produktivitas sektor jasa dan perdagangan menjadi kunci untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan di atas 5% dalam jangka menengah.
Dengan tren peningkatan PDRB per kapita dan stabilitas pertumbuhan, Kaltara memiliki ruang untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah, terutama melalui ekspansi investasi dan pengembangan sektor non-pertambangan. (*)
Reporter : Arif Rusman




