TANJUNG SELOR – Struktur perekonomian Kalimantan Utara (Kaltara) pada 2025 masih menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap ekspor barang dan jasa. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara mencatat komponen ekspor berkontribusi sebesar 102,60% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sementara impor sebagai faktor pengurang mencapai 53,37%.
Dalam Berita Resmi Statistik 5 Februari 2026, BPS melaporkan ekonomi Kaltara tumbuh 4,56% sepanjang 2025 (c-to-c), dengan nilai PDRB atas dasar harga berlaku sebesar Rp 156,03 triliun. Secara nominal, nilai ekspor 2025 mencapai Rp 160,08 triliun, sedangkan impor sebesar Rp 83,27 triliun.
Komposisi tersebut mencerminkan karakter ekonomi yang sangat terbuka dan berbasis perdagangan eksternal. Ketika kontribusi ekspor melebihi 100% dari PDRB, hal itu menunjukkan bahwa aktivitas produksi daerah sangat ditopang oleh permintaan luar negeri.
Ketergantungan terhadap ekspor menjadi krusial karena struktur ekonomi Kaltara masih didominasi sektor berbasis sumber daya alam. Pada 2025, sektor pertambangan dan penggalian menyumbang 26,84% terhadap PDRB terbesar di antara seluruh lapangan usaha.
Namun, sektor ini justru terkontraksi 1,09% sepanjang tahun. Kontraksi pertambangan terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi yang tetap positif 4,56%, yang terutama ditopang sektor konstruksi (11,17%), industri pengolahan (8,99%), dan perdagangan (9,84%).
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ketika sektor tambang melemah, dampaknya dapat langsung terasa pada kinerja ekspor dan struktur ekonomi secara keseluruhan. Sebagai daerah dengan basis komoditas, fluktuasi harga global berpotensi memengaruhi pertumbuhan, penerimaan, hingga aktivitas ekonomi turunan.
Ekspor pada 2025 tumbuh 2,98% secara tahunan. Sementara itu, impor meningkat 0,84%. Dengan impor yang juga cukup besar, keseimbangan neraca perdagangan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pertumbuhan daerah.
Di sisi lain, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDRB tercatat 14,85% pada 2025, dengan pertumbuhan 5,74%. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi berkontribusi 28,38% dan tumbuh 4,47%.
Angka tersebut menunjukkan bahwa konsumsi domestik belum menjadi penggerak utama ekonomi, berbeda dengan provinsi-provinsi di Pulau Jawa yang lebih ditopang pasar dalam negeri. Struktur pengeluaran Kaltara memperlihatkan dominasi ekspor sebagai motor pertumbuhan.
Secara triwulanan, pada Triwulan IV-2025 ekonomi tumbuh 5,49% secara tahunan (yoy) dan 3,84% secara kuartalan (qoq). Lonjakan konsumsi pemerintah sebesar 26,06% secara qoq turut mendorong akselerasi akhir tahun. Namun, secara tahunan konsumsi pemerintah justru terkontraksi 3,79%.
Pola ini mengindikasikan bahwa stabilitas ekonomi jangka menengah tetap sangat dipengaruhi dinamika ekspor dan investasi, bukan belanja pemerintah.
Secara regional, Kaltara menyumbang 8,13% terhadap perekonomian Pulau Kalimantan pada 2025 dengan pertumbuhan 4,56%, relatif sejalan dengan pertumbuhan regional Kalimantan sebesar 4,79%.
Meski pertumbuhan tetap terjaga, struktur ekonomi yang sangat bergantung pada ekspor komoditas menyiratkan tantangan diversifikasi. Industri pengolahan yang tumbuh 8,99% baru menyumbang 8,75% terhadap PDRB, menunjukkan potensi hilirisasi yang masih dapat diperluas.
Dengan nilai PDRB per kapita mencapai Rp 208,21 juta pada 2025, Kaltara memiliki basis ekonomi yang cukup besar. Namun, ketergantungan terhadap ekspor komoditas menjadikan daya tahan ekonomi daerah erat kaitannya dengan dinamika pasar global.
Data BPS tersebut memperlihatkan bahwa penguatan sektor bernilai tambah, perluasan basis industri pengolahan, serta pengembangan pasar domestik menjadi faktor strategis untuk mengurangi sensitivitas ekonomi Kaltara terhadap gejolak eksternal. (*)
Reporter : Arif Rusman




